penyakit anak

Anemia pada Anak – Jenis, Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anemia pada Anak – Jenis, Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anemia adalah penyakit kekurangan darah yang biasanya diderita oleh kaum wanita. Masalahnya antara lain karena setiap bulan wanita mendapatkan siklus menstruasi. Kehilangan banyak darah ketika masa menstruasi adalah penyebabnya. Anemia atau kurang darah tepatnya adalah penyakit yang terjadi karena penderitanya kekurangan kadar hemoglobin atau sel darah merah di dalam tubuh. Hemoglobin adalah sel darah merah yang fungsinya untuk mengangkut oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh. Selain kaum wanita, yang paling banyak terkena anemia adalah anak-anak.

Pada umumnya anemia yang banyak ditemukan di Indonesia atau di negara-negara berkembang adalah anemia karena kekurangan zat besi dalam tubuh. Apabila sel darah merah mengalami kekurangan zat besi, maka hal itu akan berakibat kepada penurunan kemampuan hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, yang pada akhirnya dapat mengganggu metabolisme tubuh.

Jenis Jenis Anemia

Anemia bisa juga dideskripsikan sebagai penurunan kemampuan sel darah untuk mengantarkan oksigen ke seluruh bagian tubuh. Anemia dapat dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan penyebabnya yaitu:

1. Anemia Karena Kekurangan Asam Folat

Kekurangan asam folat atau vitamin B9 dalam darah adalah penyebab anemia ini. Asupan asam folat yang tidak cukup adalah sumber dari anemia jenis ini. Sayuran banyak mengandung asam folat, namun kandungan asam folatnya bisa hilang apabila sayuran dimasak terlalu matang. Orang yang banyak mengonsumsi alkohol atau minuman keras bisa menderita kekurangan asam folat. Selain itu, wanita hamil juga rentan mengalami kekurangan asam folat karena banyaknya jatah asam folat yang didistribusikan ke kandungannya. Gejala yang timbul apabila mengalami anemia jenis ini adalah lemas, letih, mudah lupa dan juga mudah marah atau tersinggung. Untuk mengatasinya, bisa menambahkan makanan yang mengandung asam folat ke dalam menu harian Anda seperti hati sapi, asparagus dan kacang merah.

2. Anemia Pernisiosa

Ini adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan biasanya diderita oleh orang berusia antara 50-60 tahun. Walaupun biasanya penyebabnya berupa keturunan, namun pada beberapa kasus juga ditemukan penyebabnya dari penyakit autoimun. Penyakit autoimun adalah gangguan ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan tubuh yang sehat dan merusaknya. Gejalanya adalah sesak nafas, letih, jantung berdebar dan mati rasa atau kesemutan pada bagian kaki.

3. Anemia Aplastik

Hilangnya atau berkurangnya sel darah merah adalah penyebab anemia aplastik. Karena cedera tertentu, darah yang berfungsi membentuk jaringan dalam sumsum tulang menjadi hancur. Hal ini menyebabkan penderita kesulitan untuk melawan infeksi dan menjadi mudah mengalami perdarahan. Gejala anemia jenis ini adalah lesu, pucat, bercak keunguan pada bawah kulit, detak jantung yang cepat, mengalami infeksi, jantung tidak cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Penyebab pastinya hingga sekarang belum diketahui, namun menurut dugaan sementara, anemia aplastik disebabkan oleh paparan dari racun tertentu dan virus hepatitis.

4. Anemia Sel Sabit

Ini merupakan jenis anemia turunan dan penyebabnya adalah kondisi sel darah merah yang abnormal. Sel darah merah pada anemia ini berbentuk seperti sel bulan sabit. Penyakit ini tidak dapat dicegah dan dapat bersifat mengancam jiwa penderitanya. Gejala pada anemia jenis ini yaitu adanya serangan nyeri pada bagian lengan, kaki dan perut, bagian putih mata berwarna kuning, demam, rasa letih yang kronis, detak jantung cepat dan pucat. Anemia ini dapat berkembang menjadi borok, gangguan tulang, syok dan perdarahan pada otak.

5. Polisitemia

Penyakit anemia ini umumnya diderita oleh pria paruh baya, ditandai dengan peningkatan jumlah sel darah merah (eritrosit) serta sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit) dalam tubuh. Proses reproduksi sel tubuh serta sel sumsum tulang dewasa terjadi sangat cepat, tidak seperti normalnya yang biasa. Sampai sekarang penyebabnya belum diketahui. Gejala yang timbul biasanya berupa warna keunguan pada kulit, mata yang merah, sakit kepala, pusing dan pembesaran limpa.

6. Anemia Kekurangan Zat Besi

Jenis anemia ini adalah yang paling umum diderita oleh banyak orang. Zat besi di dalam darah yang terlalu sedikit, umum ditemukan pada wanita, anak – anak dan remaja. Gejala anemia jenis ini biasanya berupa perasaan lemas, letih, pucat, sakit kepala, mudah marah serta pada tingkat yang lebih parah bisa termasuk sesak napas, detak jantung cepat, rambut dan kuku yang menjadi rapuh.

Penyebab Anemia Pada Anak

Kekurangan zat besi pada anak yang berakibat kepada terjadinya anemia, berasal dari beberapa faktor yang dapat menjadi penyebabnya, antara lain:

  • Pertumbuhan anak yang pesat – Pada tahun-tahun pertama, biasanya anak akan mengalami fase dimana ia bertumbuh dengan cepat sekali atau juga bisa disebut dengan Growth Spurt. Hal ini sangat wajar terjadi dan justru menjadi indikasi bahwa tumbuh kembang anak berada pada tahap yang sangat baik. Namun, pertumbuhan anak yang pesat juga memerlukan asupan zat gizi dalam jumlah banyak untuk mengimbanginya. Selain itu, Anda juga perlu mengenali berbagai masalah yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak seperti apa saja ciri ciri anak hiperaktif, bagaimana karakteristik seorang anak kidal, dan bagaimana cara jitu mengatasi cadel pada anak.
  • Kesalahan pola makan anak – Kebutuhan  zat besi yang ada di tubuh bayi hanya bisa dicukupi oleh ASI selama enam bulan saja. Itulah sebabnya mengapa pada usia enam bulan bayi mulai dianjurkan untuk memasuki tahap MPASI atau makanan pendamping ASI. Kebutuhan zat besi bayi akan dicukupi melalui asupan makanan mulai usia enam bulan, sehingga tidak hanya bergantung kepada ASI saja. Bila tahapan makan anak tidak dijalankan sebagaimana mestinya, bisa saja anak akan mengalami kekurangan zat besi yang serius. Karena itulah usahakan selalu untuk memberikan makanan sehat bagi tumbuh kembang anak yang penuh gizi dan nutrisi, seperti makanan – makanan yang banyak mengandung zat besi tersebut.
  • Anak mengalami infeksi – Ketika anak menderita suatu infeksi, kuman penyakit yang ada di tubuhnya menggunakan zat besi sebagai alat untuk tumbuh dan berkembang biak. Itulah sebabnya mudah bagi anak untuk mengalami anemia saat ia sedang menderita suatu penyakit infeksi. Infeksi ini juga dapat terjadi pada usus dan mengganggu penyerapan zat besi. Penyebab infeksi ini biasanya adalah cacing tambang atau bakteri dan kuman yang masuk ke tubuh anak saat anak bermain di tempat kotor. Salah satu gejala infeksi usus adalah apabila anak mengeluarkan darah ketika buang air besar. Agar anak tidak mudah terkena anemia, Anda juga perlu mengetahui pentingnya manfaat tidur siang untuk tumbuh kembang anak dan manfaat pentingnya sarapan untuk anak yang penuh gizi.
  • Gangguan Fisiologis – Penyebab anak mengalami anemia juga bisa disebabkan karena ada gangguan pada proses penyerapan zat besi di tubuhnya. Usus adalah organ tubuh yang menjadi tempat terjadinya proses penyerapan zat besi. Gangguan tersebut bisa jadi karena ada penyakit di selaput lendir usus yang dapat menimbulkan diare atau juga karena ada zat tertentu yang mengganggu proses penyerapan zat besi tersebut.

Gejala Anemia

Anda dapat menentukan apakah si kecil menderita anemia atau tidak dari beberapa gejala yang tampak. Sebagian besar gejala anemia pada anak sama dengan gejala anemia orang dewasa. Gejalanya terdiri dari beberapa tahap ringan dan sedang seperti lelah, lesu, pusing  dan pucat. Pada tahap ini anak akan merasa cepat lelah dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, mungkin saja dapat mengganggu pelajarannya di sekolah. Sedangkan anemia yang memasuki tahap berat dapat mengganggu fungsi jantung dan menimbulkan gejala seperti sesak nafas, jantung berdebar, kedua kaki bengkak, sampai mengalami gagal jantung. Bayi yang mengalami anemia biasanya akan lebih rewel, terlihat pucat, susah makan/minum ASI atau susu, suhu tubuh terkadang dingin dan mudah jatuh sakit dibandingkan anak sebayanya yang lain.

Akibat Penyakit Anemia pada Anak

Bila tidak segera diatasi, gejala anemia dalam jangka panjang bisa mengakibatkan berbagai gangguan pada organ dan sistem tubuh anak seperti berikut:

  1. Anak akan terhambat pertumbuhannya, misalnya terlihat lebih kecil dan kurus dibandingkan anak lain seusianya dan menurut standar usia anak tertentu. Anda juga perlu mengetahui jenis mainan yang merangsang otak anak untuk mendukung perkembangan motorik halusnya.
  2. Mengalami gangguan pada kulit dan selaput lendir di tubuh.
  3. Gangguan sistem pencernaan, karena anemia juga mempengaruhi berkurangnya asam lambung.
  4. Gangguan pada otot gerak anak dan sistem kekebalan tubuh. Akibat gangguan pada otot, bisa saja ada bahaya anak terjatuh telentang.
  5. Berkurangnya kemampuan jantung untuk memompa darah.
  6. Mengalami gangguan kognitif, seperti kurang kemampuan belajar dan mengganggu perkembangan intelektual anak.
  7. Gangguan mental apabila anak sudah mengalami anemia sejak bayi dan tidak diatasi hingga usianya dua tahun lebih.
  8. Mengalami gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, dan rendahnya kemampuan memecahkan masalah.

Proses Terjadinya Anemia

Anemia pada anak akan terjadi dalam tiga tahap, yaitu pertama ketika anak mengalami kekurangan zat besi, maka tubuh akan menggunakan cadangan zat besi yang ada. Hal ini lama kelamaan akan membuat cadangan zat besi di tubuh anak menipis dan akan habis, namun anak belum akan menunjukkan gejala pucat. Sebabnya karena di dalam darah masih ada juga cadangan zat besi berupa serum iron dan transferin. Cadangan zat besi yang di dalam darah ini menandakan terjadinya fase kedua. Kemudian ketika memasuki stadium tiga, kadar hemoglobin mulai menurun dan bila dilakukan pemeriksaan darah akan terlihat bahwa sel darah merah menjadi lebih kecil dan pucat daripada sel darah merah yang normal. Waktu berlangsungnya tahap – tahap dalam anemia tergantung kepada jumlah kekurangan zat besi yang ada di tubuh anak.

Mengatasi Anemia Pada si Kecil

Karena sebagian besar anemia yang terjadi pada anak adalah anemia karena defisiensi zat besi, maka Anda bisa mengatasi anemia pada anak dengan memfokuskan kepada pemenuhan kebutuhan zat besi anak. Ada beberapa cara mengatasi anemia pada anak yaitu:

  • Mencari penyebab dari kekurangan zat besi tersebut.

Apabila penyebabnya sudah bisa dideteksi, maka akan jauh lebih mudah menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kadar zat besi dalam tubuh. Sebab jika akar permasalahannya tidak ditemukan dan hanya berobat saja, maka ada kemungkinan anemia yang dialami anak akan kembali berulang. Tidak hanya perbaikan asupan zat gizi saja, perbaikan gizi secara keseluruhan pada anak juga dapat mencegah gejala diabetes pada anak, gejala hipertensi pada anak, dan mencegah bronkitis akut dan kronis pada bayi dan anak seiring dengan kekebalan tubuh anak yang makin kuat.

  • Suplemen

Untuk kasus anemia ringan, pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian preparat besi atau sulfat ferosus. Proses pemberian preparat besi ini waktunya tidak bisa ditentukan, tergantung sampai kadar hemoglobin  kembali normal. Sebelum menempuh jalan dengan suplemen, sebaiknya lakukan tes untuk mengetahui seberapa besar nilai hemoglobin di tubuh anak. Selain itu, sebaiknya pemberian suplemen benar – benar dilakukan atas saran dokter agar tidak berlebihan. Karena konsumsi suplemen zat besi yang berlebihan dapat berakibat fatal kepada anak.

  • Makanan Bergizi

Kekurangan zat gizi bisa diatasi dengan pemberian makanan yang mengandung zat besi untuk anak. Sumber zat besi bisa didapatkan dari makanan hewani maupun nabati. Namun yang lebih mudah diserap adalah zat besi yang berasal dari makanan yang berasal dari hewan. Zat besi yang berasal dari tumbuhan seperti kacang – kacangan, sayuran, gandum, dan wijen ternyata tingkat penyerapannya sangat rendah. Vitamin C dapat membantu dalam penyerapan zat besi agar lebih optimal, karena itu Anda bisa memadukan makanan yang kaya akan zat besi dengan makanan yang mengandung vitamin C. Pemberian makanan yang bergizi berguna sebagai cara mengatasi diare pada anak dan juga sebagai cara mengatasi keracunan pada anak. Daging sapi adalah salah satu makanan yang dapat menjadi sumber zat besi terbaik, selain ikan, unggas, makanan laut, dan telur.

Mencegah Anemia Pada Anak

Anemia karena kekurangan zat besi adalah jenis anemia yang paling lumrah diderita anak – anak. Untuk mencegah anak mengalami anemia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Pemberian ASI eksklusif – Pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi anak telah berulangkali ditekankan oleh para tenaga medis. Manfaat ASI eksklusif untuk bayi akan sangat berpengaruh kepada tumbuh kembang anak dan menjadi salah satu cara meningkatkan kekebalan tubuh anak, terutama jika anak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan. Karena itulah bagi ibu yang mampu, seringkali ditekankan untuk memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati.
  2. Waktu MPASI yang Tepat – Aturan pemberian makanan pendamping ASI atau MPASI adalah ketika anak memasuki usia enam bulan. Penentuan usia yang tepat untuk anak memulai makanan padat tentunya ada penyebab yang jelas. Yaitu, ketika usia enam bulan usus anak sudah siap untuk menerima makanan padat. Serta, asupan zat besi yang didapat anak dari ASI tidak akan mencukupi lagi ketika anak memasuki usia tersebut. Karena itulah maka perlu diberikan makanan pendamping ASI yang bergizi berupa makanan terbaik untuk bayi. Bila anak tidak diberikan makanan yang tepat, tidak saja ada resiko terkena anemia tetapi bisa menjadi salah satu penyebab perut kembung pada bayi dan gangguan pencernaan pada anak.
  3. Hindari Makanan Penghambat Zat Besi –Anda juga perlu mengetahui bahwa ternyata ada juga makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Jenis makanan ini dapat menjadi jenis makanan yang berbahaya untuk anak jika dikonsumsi melewati batas. Makanan tersebut salah satunya yang dapat menurunkan kemampuan tubuh untuk menyerap zat besi yaitu:
    • Makanan yang termasuk ke dalam golongan Polifenol, seperti teh, paprika, kunyit.
    • Golongan Asam Fitrat seperti kacang – kacangan, dan gandum.
    • Golongan Asam Oksalat: Makanan jenis ini sangat mudah mengikat zat besi sehingga membentuk senyawa kompleks yang akan sulit diserap oleh tubuh misalnya bayam, ubi manis, wortel, kacang tanah, teh hitam, kopi dan cokelat.

Sedangkan beberapa makanan yang dapat membantu penyerapan zat besi pada anak adalah golongan makanan yang mangandung vitamin C seperti brokoli, tomat, jeruk, strawberry dan lainnya juga golongan organik seperti asam laktat, tartart, asam sitrat dan malart. Manfaat menjemur bayi dan anak juga dapat meningkatkan kemampuan anak menyerap zat gizi ke dalam tubuhnya.

Bahaya yang bisa dialami anak sebagai akibat dari penyakit anemia memang akan sangat merugikan tumbuh kembangnya, karena itu orang tua memang harus waspada terhadap tanda – tanda anemia pada anak atau adanya tanda tanda anak kurang gizi. Jangan pernah menganggap remeh apabila anak sulit makan atau kurang makan makanan yang bergizi, terlihat lesu dan tidak bersemangat terus menerus untuk melakukan aktivitasnya sehari – hari. Selain itu, kekurangan zat besi juga dapat dicegah sejak anak berada dalam kandungan dengan konsumsi makanan yang mengandung gizi mencukupi bagi ibu yang hamil, misalnya pemberian tablet zat besi.

17 Gejala Sinusitis pada Anak dan Cara Pengobatannya

17 Gejala Sinusitis pada Anak dan Cara Pengobatannya

Sinusitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada dinding sinus, yaitu suatu rongga kecil berisi udara yang letaknya di belakang tulang pipi dan dahi. Sinusitis merupakan penyakit umum yang bisa dialami semua orang dari berbagai tingkatan usia. Pada seorang anak, area sinus belum mengalami perkembangan yang sempurna hingga ia mencapai usia akhir masa remajanya. Tidak seperti pada orang dewasa, sinusitis pada anak kecil umumnya lebih sulit didiagnosa karena gejala sinus bisa mirip dengan gejala penyakit karena virus atau alergi.

Sinus adalah ruangan – ruangan kecil yang saling berhubungan melalui saluran udara di dalam tulang tengkorak. Ketika terinfeksi dan menjadi bengkak atau menjadi iritasi, maka disebut sinusitis atau infeksi sinus. Anak – anak yang lebih kecil rentan terhadap infeksi terutama pada masa beberapa tahun pertama kehidupannya. Umumnya penyakit sinus berasal dari flu yang diderita anak namun lama kelamaan diperparah oleh alergi. Jadi jika anak masih saja sakit setelah melewati beberapa minggu kemungkinan ada resiko alergi yang bisa mengarah ke sinusitis.

Macam Sinus dan Letaknya

Sinus tidak hanya ada satu macam saja. Pada area rongga hidung tersebut dan sekitarnya terdapat beberapa macam sinus yang letaknya berdekatan:

  • Sinus Frontalis – Yaitu sinus yang terletak di dahi.
  • Sinus Maksilaris – Letak sinus ini di dalam tulang pipi.
  • Sinus Etmoid – Letaknya di belakang hidung, dan di dekat sudut mata.
  • Sinus Sfenoid – Terletak di belakang sinus etmoid.

Semua sinus saling berhubungan dengan hidung, gunanya untuk pertukaran udara dan sekresi berupa ingus. Hidung dan juga sinus memiliki lapisan selaput lendir yang berhubungan satu sama lain. Sinus pada anak sebenarnya tidak akan berkembang sebelum ia berusia 20 tahun, namun tetap beresiko untuk mengalami infeksi sinus karena sinus maksilaris dan sinus etmoid telah ada sejak anak masih kecil.

Penyebab Sinusitis Pada Anak

Anak – anak yang sedang menderita sinusitis biasanya akan menjadi mudah kesal, tidak berselera makan, dan tampak bernapas melalui mulut, suaranya akan terdengar sengau seolah sedang mengalami pilek berat. Banyak hal yang dapat menyebabkan sinus mengalami peradangan dan lalu tersumbat, seperti penyakit flu yang merupakan infeksi virus pada sinusitis akut, atau juga infeksi bakteri. Adapun penyebab sinustis kronis adalah :

  • Polip – Polip yang ada di dalam hidung adalah jaringan yang tumbuh yang dapat menghalangi saluran hidung.
  • Kondisi Medis Lain  – Adanya komplikasi dari penyakit lain yang menyebabkan sinusitis karena kondisi tubuh menurun seperti fibrosis kistik, infeksi gigi, HIV, dan lainnya.
  • Alergi – Anak dengan bakat alergi juga dapat mengalami sinusitis karena saluran sinusnya terhalang. Contoh, hay fever, asma, dan rinitis alergi.
  • Deviasi Septum Hidung – Septum adalah dinding yang ada diantara lubang hidung. Penyimpangan dalam pembentukan septum bisa menghalangi saluran sinus.
  • Bakteri – Sinusitis juga dapat terjadi karena infeksi bakteri. Bakteri yang paling sering menyebabkan sinusitis adalah Streptococcus Pneumonia, Haemophilus Influenzae, dan Moraxella Catarhallis.

Gejala Umum Sinusitis

Sinusitis menunjukkan gejala – gejala secara umum seperti berikut:

  1. Sakit kepala, biasanya pada anak berusia enam tahun keatas. Tekanan tinggi akibat pembengkakan pada sinus bisa terjadi di seluruh bagian tengkorak sehingga menyebabkan sakit kepala.
  2. Mengalami demam diatas 38 derajat celcius
  3. Hidung tersumbat dan keluar cairan berwarna kuning kehijauan yang kental. Tersumbatnya hidung disebabkan karena peradangan atau infeksi yang menyebabkan bengkaknya sinus atau hidung bagian dalam.
  4. Terasa nyeri pada bagian wajah dan sakit ketika ditekan, rasa sakit ini terjadi karena jaringan yang meradang di bagian ujung saraf di dinding sinus.
  5. Kehilangan fungsi indera penciuman sementara karena pembengkakan area selaput di dalam hidung, sehingga menghambat bau yang dihirup.
  6. Daya perasa atau pengecap yang berkurang karena terpengaruh daya penciuman yang menurun.
  7. Nafas berbau atau halitosis
  8. Sakit tenggorokan, batuk, mual dan muntah.
  9. Area sekitar mata mengalami pembengkakan atau sembab.
  10. Pilek yang lama, sekitar 10 sampai 15 hari juga menandakan bahwa bisa jadi ini adalah gejala sinusitis.
  11. Waspadailah bila anak mengalami bersin terus menerus, karena ini juga bisa menjadi tanda dari sinusitis.

Sinusitis pada anak berbeda dengan sinusitis pada orang dewasa. Pada anak – anak, lebih sering mengalami napas berbau, batuk, gelisah, lesu, dan terlihat sembab pada area mata, disertai ingus yang berwarna kuning kehijauan.

Gejala dan Jenis Sinusitis Menurut Masa Berlangsungnya

Menurut waktu berlangsungnya penyakit sinusitis, ada beberapa macam penyakit sinusitis dan gejalanya yang bisa diuraikan yaitu:

  1. Sinusitis Akut – Gejala sinusitis akut ini dapat timbul mendadak dan bertahan selama 14 hari sampai satu bulan. Beberapa gejala yang muncul yaitu timbulnya mukus atau cairan hidung berwarna kuning kehijauan dari hidung, sakit kepala, dan merasa nyeri pada wajah terutama pada area sekitar mata, pipi, hidung, dan dahi. Rasa sakit itu akan lebih terasa ketika sedang dalam posisi membungkuk, indera penciuman yang terganggu, batuk, hidung beringus, demam, napas bau, mengalami kelelahan dan sakit gigi. Biasanya muncul setelah mengalami flu atau gangguan pernapasan saluran atas.
  2. Sinusitis Sub Akut – Yaitu sinusitis yang bisa berlangsung selama satu sampai tiga bulan, atau antara empat sampai delapan minggu. Gejalanya hampir mirip dengan sinusitis akut, biasanya terjadi jika pengobatan tidak terlalu berhasil pada sinusitis akut.
  3. Sinusitis Kronis – Gejala yang biasa tampak pada sinusitis kronis yaitu jika hidung terasa tersumbat, ada nanah di rongga hidung dan cairan hidung berubah warna, demam, rasa penuh di wajah. Kondisi sinusitis dapat dikatakan memburuk apabila terdapat bengkak, nyeri dan kemerahan di sekitar mata dan dahi, sakit kepala hebat, demam yang tinggi, penglihatan ganda, rasa kaku pada leher, dan penderita sering merasa kebingungan. Gejala yang timbul bisa bertahan sampai tiga bulan atau lebih.
  4. Sinusitis Berulang – Sinusitis berulang yaitu apabila seseorang mengalami beberapa kali serangan penyakit ini dalam jangka waktu satu tahun.

Gejala Sinusitis Menurut Penyebabnya

Berdasarkan penyebabnya, sinusitis memiliki beberapa jenis yang perlu Anda ketahui:

  1. Sinusitis Rhinogenik – Yaitu sinusitis yang terjadi karena ada kelainan atau masalah di hidung. Segala sesuatu yang menyumbat hidung dapat menjadi penyebab dari sinusitis, seperti flu biasa, rinitis alergi atau terjadinya pembengkakan pada lapisan hidung, polip, atau penyimpangan septum.
  2. Sinusitis Dentogenik / Odontogenik – Yaitu sinusitis yang terjadi karena kelainan gigi, yang sering menyebabkan terjadinya sinusitis infeksi pada gigi geraham bagian atas.

Penyakit Akibat Komplikasi Sinusitis

Apabila penyakit sinusitis akut tidak mendapatkan pengobatan dengan benar, penyakit tersebut bisa menjadi sinusitis kronis. Dan apabila sinusitis kronis tidak juga mendapatkan pengobatan yang layak, bisa terjadi komplikasi – komplikasi seperti berikut:

  • Infeksi yang menyebar ke dinding otak bisa menyebabkan meningitis.
  • Mengalami kerusakan sebagian atau seluruh indera penciuman.
  • Mengalami masalah dalam penglihatan, misalnya kehilangan sebagian penglihatan atau mengalami kebutaan.
  • Munculnya infeksi pada kulit atau pada tulang.

Anak Dengan Resiko Sinusitis

Pada beberapa anak, resiko menderita sinusitis lebih besar daripada anak lainnya. Hal itu disebabkan karena:

  • Ketika terkena flu biasa, membran mukosa hidungnya membengkak.
  • Saluran drainase hidung tersumbat.
  • Ada perbedaan struktur yang mempersempit saluran hidung, bisa disebabkan karena kelainan struktur tulang hidung sejak lahir atau karena trauma luar yang menyebabkan luka di wajah.
  • Adanya polip di hidung.
  • Kekurangan kekebalan tubuh atau sedang mengonsumsi obat yang menekan kekebalan tubuh.
  • Anak memiliki bakat alergi.

Mendiagnosis Sinusitis

Seperti penyakit lain yaitu  gejala diabetes pada anak dan gejala hipertensi pada anak, sinusitis jugs membutuhkan diagnosa yang tepat. Untuk mendiagnosis sinusitis tentu saja diperlukan konsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan gejala dan melakukan pemeriksaan fisik.  Tes yang dilakukan untuk pemeriksaan sinusitis seperti meraba atau menekan sinus untuk memastikan keras atau lembutnya, memeriksa gigi untuk melihat adanya peradangan sinus paranasal, tes kultir lendir, endoskopi hidung, x ray, tes alergi, CT scan sinus, tes darah. Beberapa tes yang umum dilakukan adalah:

  1. Sinar X Pada Sinus – Yaitu suatu tes diagnostik yang menggunakan energi elektromagnetik untuk membuat gambar dari jaringan internal tubuh seperti tulang dan lainnya.
  2. Computed Tomography Scan (CT Scan) – Yaitu pencitraan diagnostik yang menggunakan kombinasi sinar X dan teknologi komputer terkini untuk menunjukkan gambar dengan posisi horizontal atau aksial dari tubuh. Prosedur ini dapat menunjukkan secara detil gambaran dari bagian  tubuh seperti tulang, otot, lemak dan organ.
  3. Kultur Sinus – Yaitu tes yang dilakukan di laboratorium dengan mengambil sampel dari bagian dalam hidung dan menggunakannya untuk menumbuhkan bakteri dan mikroorganisme untuk membantu menegakkan diagnosis.

Pengobatan Penyakit Sinusitis

Pengobatan yang ada saat ini tujuannya hanya untuk meringankan gejala dari penyakit sinussitis, karena pada umumnya penyakit ini tidak akan berkembang lebih parah jika faktor- faktro pemicunya tidak terjadi. Ada beberapa cara pengobatan yang bisa dilakukan untuk meringankan gejala sinusitis yaitu:

Semprotan Hidung – Berbahan dasar saline, yaitu campuran air matang, garam, dan soda bikarbonat. Saline ini yang disemprotkan penderita beberapa kali sehari ke dalam hidung mereka. Gunanya untuk membersihkan saluran hidung.

  • Saline Nasal Irrigation – Untuk mengurangi  kumpulan cairan dan membersihkan zat yang menyebabkan iritasi serta alergi.
  • Kompres  – Biasanya berupa kompres hangat untuk membantu mengurangi rasa nyeri di hidung.
  • Pereda Sakit – Untuk meringankan sakit dan nyeri yang biasa dirasakan para penderita sinusitis.
  • Dekongestan – Untuk menggunakan obat ini sebaiknya lakukan konsultasi lebih dulu dengan dokter, obat ini juga tidak bisa digunakan jika melebihi tiga hari pemakaian. Dengan kata lain, penggunaan yang diizinkan hanya selama satu minggu.
  • Kortikosteroid Hidung – Fungsinya untuk mencegah dan mengatasi peradangan pada hidung.
  • Imunoterapi – Pengobatan dengan cara ini biasanya digunakan untuk penderita yang mempunyai resiko alergi untuk meringankan reaksi tubuh terhadap alergen.
  • Antibiotik – Dokter akan memberikan pengobatan dengan menggunakan antibiotik apabila sinusitis disebabkan oleh infeksi bakteri.

Prosedur Operasi Sinusitis

Apabila dengan metode – metode pengobatan yang ada, gejala sinusitis tidak juga membaik, maka bisa jadi penyebabnya adalah kelainan pada struktur sinus yang menyumbat saluran keluar sinus. Dokter akan mengambil jalan untuk mengoperasi atau membedah sinus. Prosedur yang harus dilalui saat membedah sinus yaitu:

  • Bius

Sebelum pembedahan, hidung akan dibuat mati rasa terlebih dulu, bisa menggunakan bius lokal atau bius umum sesuai hasil konsultasi pasien dan dokter.

  • Endoskopi

Pada tahap pertama, dokter akan melakukan endoskopi, yaitu memasukkan selang kecil yang dilengkapi kamera di bagian ujungnya untuk melihat dan memperbesar keadaan bagian dalam hidung. Dengan teknik ini, dokter akan dapat melihat bagian dalam hidung berupa saluran drainase dari sinus.

  • Tindakan

Setelahnya, dokter akan melakukan tindakan yang diperlukan seperti pengangkatan jaringan atau dilatasi kateter balon, yaitu pemompaan balon kecil yang fungsinya untuk membuka saluran drainase dan sinus. Selain itu, dokter juga akan memasukkan implan yang bisa larut dengan sendirinya dan berisi steroid mometasone, yang bertujuan untuk membuat saluran drainase sinus tetap terbuka.  Tindakan ini tentunya bertujuan untuk membuat sinus berfungsi dengan normal kembali.

Mencegah Sinusitis Pada Anak

Jika Anda khawatir si kecil mampunyai resiko terkena sinusitis, Anda bisa mencegahnya dengan beberapa cara tertentu. Ada beberapa cara untuk mencegah sinusitis pada anak yaitu:

1. Menjaga Kebersihan

Kebanyakan penyebaran penyakit dimulai dari kontak dengan orang yang terinfeksi dan kuman tersebut akan langsung masuk ke mulut, hidung dan mata ketika tangan digunakan untuk mengusap bagian – bagian tersebut. Untuk mencegahnya, Anda harus membiasakan diri untuk membersihkan dan mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah makan, dan jangan gunakan cairan pembersih tangan secara berlebihan karena justru akan memancing timbulnya mikroorganisme kekebalan anti bakteri.

2. Menjaga Cairan Tubuh

Agar tubuh berfungsi normal dan menjaga mikroorganisme tetap menjauh dari tubuh maka kondisi mulut dan hidung harus selalu dalam keadaan lembab dan terhidrasi. Sebab, jika kondisinya terlalu kering maka akan rentan terhadap iritasi, infeksi dan inflamasi. Jaga cairan tubuh dengan minum delapan gelas air putih setiap harinya. Hindari soda dan minuman berenergi.

3. Mengontrol Alergi

Hindari  pemicu alergi atau alergen seperti debu, makanan, suhu dingin, polusi dan lainnya adalah cara mudah mengatasi alergi pada anak. Memang ada pengobatan untuk alergi seperti antihistamin, namun Anda tidak dapat menggunakannya secara berlebihan, karena dapat menyebabkan membran mucus menjadi kering. Anak-anak adalah perokok pasif yang mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami infeksi sinus dan paru-paru. Memang tidak mungkin untuk menghindari semua faktor tersebut secara utuh, namun menggunakan masker bisa menjadi cara yang efektif untuk menangkalnya.

4. Menghindari Ekspos Terhadap Faktor Iritan

Selain alergen, ada banyak bahan kimia penyebab iritasi yang dapat memicu iritasi dan inflamasi di dalam saluran hidung, yang membuat resiko terinfeksi meningkat. Faktor iritan tersebut antara lain bahan pembersih kimia, asap rokok, partikel asbes, polutan, debu, cairan pemutih dan lain – lain.

5. Menggunakan Suhu Hangat

Udara dingin bisa memancing penderita sinus untuk kambuh. Anda bisa membantu anak untuk:

  • Menghirup udara hangat atau uap untuk menghindarkan berkembangnya sinusitis pada saat anak sedang alergi atau flu.
  • Keluarkan lendir hidung secara perlahan, dengan menutup satu lubang dan mengeluarkan lendir dari lubang hidung yang lain.
  • Minum banyak air putih untuk mencairkan dan mencegah lendir mengental.
  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang hangat, dan juga menghirup uap air hangat . Bisa juga mengompres wajah dengan air hangat.

6. Memperkuat Kekebalan Tubuh

Untuk tipe infeksi apapun, semua bentuk pencegahan bergantung kepada respon dan ketahanan imun tubuh yang sehat. Cara meningkatkan kekebalan tubuh anak dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang prima untuk anak – anak adalah:

  • Pastikan Anda mengatur waktu tidur yang baik untuk anak agar anak mendapatkan waktu tidur yang cukup setiap malamnya, juga memberikan manfaat tidur siang untuk tumbuh kembang anak ketika anak membutuhkan tambahan waktu istirahat.
  • Banyak makan buah-buahan dan sayuran, kurangi makanan manis dan instan. Beri anak makanan yang sehat seperti manfaat madu untuk anak dan balita, manfaat oatmeal untuk bayi dan anak, juga jauhkan dari beberapa jenis makanan berbahaya untuk anak.
  • Menjaga kebersihan dan asupan cairan ke dalam tubuh. Menjaga kebersihan diri sendiri seperti tangan juga merupakan salah satu cara mengatasi diare pada anak.
  • Pastikan anak melakukan aktivitas fisik yang cukup. Beri waktu agar dapat merasakan manfaat olah raga untuk anak yang dapat memperkuat sistem tubuhnya.

Untuk mencegah sebelum anak mengalami sinusitis yang semakin parah, orang tua perlu waspada dan mengenali tanda-tanda yang ada sebelum terlambat. Artinya, jika flu anak sudah menunjukkan gejala yang tidak biasa maka janganlah meremehkan hal tersebut. Segeralah konsultasikan anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik, seperti halnya mendiagnosa penyakit lainnya misalkan anemia pada anak, cacar air pada anak, atau bronkitis akut dan kronis pada bayi dan anak. Dengan demikian, anak akan mendapatkan penanganan yang tepat saat ia membutuhkan dan bisa pulih dengan cepat.