bermain

7 Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini bagi Tumbuh Kembangnya

7 Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini bagi Tumbuh Kembangnya

Bagi anak usia dini, bermain adalah segalanya karena pada dasarnya dunia yang diinginkannya hanyalah dunia yang menyenangkan, penuh warna, dan bebas dari lika-liku kehidupan. Namun, tidak semua orang tua mengizinkan anaknya untuk bermain karena faktor kesehatan, kulit kusam, dan cuaca yang tidak baik. Menurut penelitian pakar kesehatan, ada beberapa tahapan perkembangan bermain anak yang dapat meningkatkan kemampuan motorik, fisik, sosial, kognitif, dan emosional si anak. Sehingga ia lebih berbaur dan mengenal dunia luar, serta merangsang tumbuh dan kembang anak tersebut.

Berikut adalah manfaat pentingnya bermain untuk pertumbuhan anak di usia dini yang perlu diketahui:
  1. Meningkatkan Ketangkasan Anak

Dengan bermain, anak cenderung lebih tangkas dibandingkan membiarkannya berdiam diri di rumah. Ketangkasan ini meliputi: berjalan, melompat, menendang bola, merangkak, jongkok, dan melempar. Dengan menggerakkan anggota tubuhnya membuat anak aktif bergerak sehingga membuat otot-otot tubuhnya pun menjadi lebih kuat. Dengan kegiatan tersebut, kesehatan tubuh anak juga optimal karena bergerak membuat tubuh anak berolahraga.

Baca: Dampak negatif bermain game untuk anak – Bahaya bermain game untuk anak – Ciri-ciri anak hiperaktif – manfaat liburan untuk anak – manfaat makan bersama keluarga

  1. Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi

Banyak orang tua yang menuntut prestasi akademik dibandingkan kemampuan bersosialisasi. Padahal, kedua komponen ini sama pentingnya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, biarkan anak Anda untuk berbaur dengan teman-temannya. Biarkan anak menjalin hubungan pertemanan dengan caranya sendiri. Secara otomatis, sosialisasi antara anak dan orang tua juga akan meningkat karena saling membangun komunikasi.

  1. Meningkatkan Kecerdasan Berbahasa

Bahasa sangat membantu anak untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Selain itu, bahasa juga mampu meningkatkan daya ingat si anak sehingga ia lebih mudah mengenali dunia di sekitarnya. Semakin banyak anak bermain, semakin tinggi pula sosialisasi yang dibangunnya. Sehingga kemampuannya untuk mengolah bahasa dan memahami kalimat baru juga akan semakin bertambah.

  1. Mengembangkan Kreativitas Anak

Jika selama ini Anda mengira kalau bermain itu wasting time atau buang-buang waktu, Anda salah besar. Faktanya ada beberapa jenis mainan yang merangsang otak anak, juga mengembangkan kreativitasnya. Kemampuan antara otak kanan dan kiri juga akan semakin meningkat bahkan berjalan dengan seimbang. Sehingga anak dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dan membanggakan di masa depan.

  1. Kemampuan Mengenal Diri Sendiri

Anak usia dini juga perlu diajak untuk mengenal dirinya sendiri. Mulai dari mengetahui nama, hobi, cita-cita, dan lain sebagainya. Semakin banyak anak diizinkan untuk bermain, semakin tinggi pula kemampuannya untuk mengenal dirinya sendiri. Sehingga anak lebih tahu apa yang ia sukai, apa yang tidak dia sukai. Ia juga lebih paham tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik.

  1. Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Percaya atau tidak, bermain dapat meningkatkan rasa percaya diri anak secara otomatis. Oleh sebab itu, jangan terlalu sering melarang anak untuk melakukan ini dan itu. Biarkan dia melakukan apapun yang diinginkannya. Selagi hal itu tidak berbahaya, mengapa orang tua melarangnya? Ingat, semakin Anda melarang si anak, semakin rendah pula tingkat kepercayaan dirinya. Ini tentu akan sangat berpengaruh ketika ia tumbuh dewasa nanti.

  1. Mengembangkan Karakter dan Kepribadian Anak

Karakter harus mulai dibangun sejak dini. Hal ini berguna agar anak mengenali siapa dirinya ketika ia tumbuh besar nanti. Selama bermain, anak tentu akan mengalami perselisihan dengan teman seusianya. Sebagai orang tua, jangan terlalu melindungi anak. Biarkan ia menyelesaikan masalahnya sendiri dan biarkan Anda yang menilainya. Karakter dan kepribadian si anak akan terlihat ketika ia menyelesaikan sebuah permasalahan. Apabila anak termasuk orang yang emosional, mulailah untuk mengajarkannya meredam emosi agar sifat ini dapat berubah.

Baca: Bahaya bayi tidak diimunisasi – Efek positif dan negatif televisi bagi pertumbuhan anak – Tanda-tanda anak kurang gizi – Manfaat tidur siang untuk tumbuh kembang anak

Mulai dari sekarang, jangan pernah melarang anak apabila ia ingin bermain. Biarkan dia bermain bersama teman-temannya karena bermain akan memberikan banyak manfaat kepada si anak.

6 Tahapan Perkembangan Bermain Anak Usia Dini

6 Tahapan Perkembangan Bermain Anak Usia Dini

Dunia anak adalah dunia bermain. Tiada hari tanpa bermain. Bahkan semua proses untuk belajar dan bersosialisasi juga mereka peroleh dari kegiatan bermain. Itulah salah satu pentingnya bermain untuk pertumbuhan anak. Sejak bayi akan ada gerakan bermain yang mereka pelajari. Bahkan saat mereka hanya menggerak-gerakkan tangan atau kaki mereka, itu adalah cara mereka bermain. Hingga ketika anak beranjak ke usia balita dan batita pun tahapan permainan mereka akan berbeda. Tahapan perkembangan bermain pada anak sesuai dengan perkembangan usianya. Beberapa ahli juga mengungkapkan tahapan perkembangan bermain anak pada usia dini, seperti Mildred Parten.
Baca : efek negatif sering menakut nakuti balita, efek positif dan negatif televisi bagi pertumbuhan anak, manfaat mendongeng bagi pertumbuhan anak, cara jitu mengenali bakat anak, efek pada mental anak yang sering dibentak, kata-kata yang tidak boleh diucapkan orang tua kepada anak Menurut Mildred Parten, ada 6 tahap perkembangan bermain pada anak usia dini, yaitu:

1. Gerakan Kosong (Unoccupied Behavior)

Tahapan yang pertama dari proses bermain anak adalah tahapan yang paling sederhana yang dinamakan gerakan kosong. Dinamakan gerakan kosong karena tahapan permainan anak hanya berupa gerakan yang tidak berarti jika dilihat. Gerakan kosong adalah tahapan dimana anak hanya mengamati sesuatu dan menggerakkan anggota tubuhnya tanpa tujuan tertentu. Biasanya mereka akan menggerakkan tangan dan kakinya.

2. Tingkah Laku Pengamat (Onlocker Behaviour)

Tahapan bermain selanjutnya adalah tingkah laku pengamat, dengan kata lain anak berperan sebagai pengamat. Tingkah laku pengamat adalah tahapan bermain dimana anak memperhatikan anak-anak lain yang sedang bermain. Hanya dengan mengamati ini mereka pun akan merasa senang. Secara tidak langsung, mereka akan merekam apa yang mereka amati dalam memori mereka. Hingga nanti suatu saat mereka akan mencoba untuk mempraktekkan apa saja yang pernah mereka amati. Daya ingat anak mulai berperan dalam tahap ini. Untuk mempertajam daya ingat ada beberapa cara meningkatkan daya ingat anak yang dapat dilakukan oleh orang tua.

3. Bermain Soliter (Solitary Play)

Tahapan bermain soliter adalah tahapan yang mana sudah ada kegiatan permainan yang dilakukan oleh sang anak. Pada tahapan ini anak sibuk bermain sendiri tanpa memperhatikan orang disekelilingnya. Mereka merasa asyik dan nyaman dengan permainan mereka sendiri walaupun ada teman-teman yang berada di sekitar mereka. Inilah tahapan awal mereka bersentuhan langsung dengan jenis permainan tertentu.

4. Bermain Paralel (Parralel Play)

Bermain paralel adalah proses anak bermain bersama teman-teman yang lain tetapi dalam permainan mereka masing-masing. Anak-anak mulai perhatian dengan kehadiran teman-teman di sekitarnya, sehingga akan ada ketertarikan untuk bermain bersama. Akan tetapi mereka tidak melakukan permainan yang sama. Mereka akan tetap memainkan permainan mereka sendiri. Dalam tahap ini mereka belum mau berbagi permainan mereka ke anak-anak yang lain, ataupun mereka belum tertarik untuk memainkan permainan anak-anak lain. Dan dalam proses inilah anak juga mulai belajar berkomunikasi secara langsung dengan anak-anak yang lain.

5. Bermain Asosiatif (Associative Play)

Tahapan perkembangan bermain anak selanjutnya adalah bermain asosiatif. Bermain asosiatif adalah proses bermain dimana anak bermain dengan anak-anak lain dalam kegiatan permainan yang serupa. Anak mulai punya keinginan untuk bermain bersama dalam satu permainan dengan yang lain. Proses komunikasi yang terjalin dengan teman-temannya pun akan lebih intensif. Kegiatan ini juga dapat mempercepat proses anak berlatih bicara. Jika anak kurang bersosialisasi ia dapat terlambat bicara, dan orang tua harus mengetahui dengan benar mengenai anak terlambat bicara, ciri, penyebab dan cara mengatasinya. Permainan yang dilakukan anak dalam tahapan ini adalah permainan sederhana tanpa ada tujuan tertentu yang harus dicapai.

6. Bermain Kooperatif (Cooperative Play)

Pada tahapan ini, anak-anak bermain bersama teman-teman dalam permainan yang sama. Jenis permainan yang dimainkan sudah memiliki tujuan tertentu. Ada juga jenis mainan yang merangsang otak anak. Misalnya ketika anak bermain bola secara beregu. Tujuan dari permainan yang mereka lakukan adalah mereka harus bisa memasukkan bola ke gawang lawan. Permainan mereka akan lebih terorganisir sehingga dalam prosesnya akan ada kerja sama dari setiap anak. Anak akan mulai merasakan perasaan senang ketika bersama teman-temannya dapat meraih tujuan dari permainan tersebut.

Berbeda dengan Mildred Parten, Jean Piaget mengelompokkan tahapan perkembangan bermain anak ke dalam 4 proses yaitu sensori motor play, symbolic/make believe play, social play games with rules, dan games with rules and sports. Proses bermain anak mempunyai banyak manfaat untuk anak. Melalui bermain, perkembangan bahasa, moral, dan sosial akan bertambah.

Dan melalui bermain ini jugalah anak mulai berlatih untuk menghargai, tolong-menolong, dan bersosialisasi dengan anak-anak lain. Untuk itu jangan batasi permainan anak, yang terpenting adalah selalu mengawasi apa yang dilakukan anak. Misalnya mengenai dampak negatif bermain game untuk anak dan bahaya bermain game untuk anak. Dan pastikan mereka bermain dengan benar dan terarah. Sekian informasi mengenai tahapan perkembangan bermain anak pada usia dini. Semoga bermanfaat.