Sponsors Link

17 Kata Kata yang Tidak Boleh diucapkan Orangtua kepada Anak

Sponsors Link

Di dunia ini, pastinya semua orangtua ingin mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Setiap orangtua merupakan guru pertama bagi anak-anaknya. Anak mendapatkan banyak pelajaran dan pengetahuan dari orang tuanya, maka dari itu jadilah orang tua yang berilmu bagi anak-anak. Pelajaran yang anak butuhkan tidak hanya tentang ilmu sains, ilmu sosial dan sebagainya. Pelajaran moral dan etika adalah hal yang tidak sepenuhnya anak dapatkan disekolah, karena mereka hanya mempelajari bagaimana mematuhi peraturan dan disiplin.

Tanpa kita sadari, anak-anak akan mengikuti atau belajar secara alami tentang aturan dalam keluarganya, seperti cara orang tuanya bergerak, berbicara, berpikir dan berperilaku. Etika yang paling penting adalah bagaimana seharusnya kita berbicara kepada orang lain. Dan tanpa kita sadari, terkadang kita sering hilang kesabaran ketika menghadapi anak yang nakal seperti misalnya berkelahi, memukul saudara atau temannya, dan lain sebagainya. Tanpa sadar kita akan membentak si anak, memarahi, mencaci, mengancam dan bahkan memukulnya. Karena bagi sebagian orang tua hal tersebut dapat meredakan atau mengurangi kenakalan si anak tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sebagai orang tua. Yang pertama, sebagai orang tua kita harus dan wajib memiliki rasa sabar yang luar biasa terhadap anak. Jika anak melakukan sebuah kenakalan, maka di sinilah orangtua harus menjalankan tugasnya. Setiap anak memiliki pemikiran yang berbeda-beda, dan tentu kita tidak bisa menyamakan si anak dengan anak-anak yang lainnya. Pikirkanlah jika mereka masih dalam masa belajar dan bermain, bahkan kita juga pasti pernah melakukan kenakalan pada saat masih kecil.

Jangan menyamakan masa kecil kita dengan masa kecil anak. Karena ini akan berbeda sekali. Cobalah untuk mengerti apa yang anak inginkan. Jangan menggunakan cara yang keras dan kasar terhadap anak, karena ini akan membuatnya lebih memberontak. Jangan menggunakan pola asuhan yang pernah kita dapatkan semasa kecil, karena pola pengasuhan jaman kita dan jaman anak sangatlah berbeda. Namun jika orangtua tetap yakin untuk menerapkan pola pengasuhan yang sama seperti apa yang Anda pernah dapatkan, maka sah-sah saja. Tapi ingatlah untuk tetap memodifikasi cara mengasuh anak dengan jaman yang modern ini.

Bentuklah karakter anak dengan baik, dan ini dapat dilakukan sejak anak dalam usia balita. Orangtua harus pandai dalam memilih kata-kata yang baik dan bukan asal ngomong saja ketika berhadapan dengan si kecil, selain itu pilihlah kata-kata yang mudah dimengerti anak. Jika Anda kesal pada anak, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah diam dan menghindar sejenak darinya. Tenangkan hati dan pikiran, pikirkan jika mereka adalah anak-anak. Dan terkadang anak tidak mengerti jika apa yang sedang dilakukannya. Setelah tenang barulah mulai dekati si anak dan ajak mereka bicara dengan cara yang lembut. Jangan mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat anak lebih memberontak dan kasar dalam berbicara.

Memberikan label negatif pada anak, adalah hal yang sangat tidak diperbolehkan dalam mendidik si kecil. Label negatif dapat membuat anak sakit hati, dan bahkan dia bisa merasa dendam hingga memasuki usia dewasa. Dendam, tentu saja dapat merusak mentalnya, contoh pemberian label pada anak seperti “ dasar anak pelit “ “dasar pencuri” dan sebagainya. Pernahkah Anda mendengar jika apa yang orang tua katakan ( terutama bunda ) adalah doa bagi anaknya.

Pernyataan negatif tentang anak akan membuat hati anak tersakiti. Bahkan ini akan melekat menjadi pribadi mereka saat sudah dewasa. Kalimat-kalimat negatif contohnya “Kamu anak yang pelit!”, “Kamu pemalas!”,“Kamu gendut!”, “Kamu nakal!” dan kalimat negatif lainnya. Mereka akan benar-benar seperti apa yang orang tua mereka katakan. Sungguh berbahaya, mengingat kata-kata seorang ibu bisa berarti doa untuk anak-anaknya.

Cara Menghadapi Anak Yang Nakal / Salah

  • Perhatikan apa yang dilakukan anak.
  • Tahan emosi.
  • Menghindarlah beberapa menit dari anak.
  • Pikirkan apa yang dilakukan anak.
  • Atur lah kalimat yang baik untuk menegur anak.
  • Tunjukkan bahwa bunda peduli padanya.
  • Bunda berhasil mengendalikannya.

Sebagai orang tua kita harus tahu kata-kata apa saja yang tidak boleh terlontar dari diri kita kepada si anak, berikut kalimat yang tidak boleh kita berikan pada anak.

Kata-Kata Atau Kalimat Yang Tidak Boleh Diucapkan Pada Anak

1. Dasar anak nakal

Anak nakal adalah anak yang lebih aktif dari teman-temannya yang lain. Dia bergerak dan berpikir lebih banyak dari pada anak yang lainnya. Walaupun anak melakukan sebuah kenakalan, kita tidak boleh memberikan julukan atau label pada anak. Karena hal tersebut dapat membuat anak menganggap bahwa dirinya benar-benar anak yang nakal, dan anak akan merasa lebih nyaman menjadi anak nakal. Karena dengan nakal, ia bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.

2. Dasar anak cengeng / Dasar laki kok cengeng 

Menangis adalah respon alami manusia yang bernyawa. Manusia yang normal pasti pernah menangis, begitu juga dengan anak-anak. Pernahkah kita berpikir jika kita memberikan label cengeng pada anak yang sedang menangis, maka tidak menutup kemungkinan anak akan lebih menutup diri dengan orang tua. Karena mereka berpikir dan beranggapan, jika orang tua tidak akan mengerti apa yang sedang ia rasakan. Jika anak nakal, ajaklah ia berbicara atau alihkan perhatiannya pada hal lain.

3. Mengancam anak  “awas liat aja kalau papa kamu pulang nanti”

Jika orangtua sering kali melakukan hal ini, maka mulai sekarang berhentilah untuk melakukan hal ini, karena dengan mengancam dapat merusak mental si kecil. Dari pada mengancam, akan jauh lebih baik jika menasehati anak untuk tidak nakal dan tentu dengan cara yang lembut. Jangan mengancam anak ketika dia melakukan sebuah kesalahan, karena mengancam dapat membuat anak enggan untuk berbagi dan tidak merasa aman ketika berada di dekat kita.

4. Hey apa-apaan ini

Terkadang anak melakukan hal-hal baru yang tidak ia mengerti. Masa anak-anak adalah masa di mana kegiatan yang mereka lakukan untuk bereksplorasi tentang dunianya. Jika anak melakukan sesuatu, jangan pernah berkata “ hey apa-apaan ini “ karena kalimat tersebut dapat membuat anak bingung dan merasa melakukan kesalahan. Setiap anak memang perlu mengerti mana yang salah dan mana yang benar, tapi tetap biarkan anak akan mengerti dengan sendirinya. Dan jika anak melakukan hal baru seperti misalnya corat-coret dinding atau lantai, maka cobalah untuk tenang dan tanyakan apa yang sedang mereka lakukan dan mengalihkan pada media yang benar. Cara ini akan membantu bunda untuk mengerti apa tujuan anak melakukan hal tersebut, dan anak akan lebih terbuka pada orang tuanya.


5. Sana pergi, bunda lagi sibuk

Terkadang padatnya pekerjaan membuat kita stress dan tertekan, apalagi kerjaan yang harus take home karena deadline semakin dekat. Sesibuk apapun kita, jangan pernah mengusir anak untuk menjauh atau pergi dari kita. Jangan sekali-kali melakukan hal ini, karena anak bisa merasa tidak dibutuhkan dan tidak ada gunanya untuk bertemu atau berbicara dengan orangtua. Tentu hal ini akan merusak komunikasi antara orangtua dan anak, biarkan anak berinteraksi dengan kita walaupun sibuk. Tinggalkan 10 menit pekerjaan Anda untuk anak, karena dengan 10 menit saja anak akan merasa lebih diperhatikan.

6. Kok kamu bisa kalah sih

Sebagian orang tua terobsesi untuk memiliki anak yang pintar. Dan tidak jarang orang tua tidak menerima kekalahan yang anak dapatkan, bahkan mereka seakan meremehkan si anak dengan bilang “ kok kamu bisa kalah sih “. Sadarkah kita, jika kalimat tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri anak. Dengan begitu anak akan merasa malas untuk berusaha, karena mereka merasa diremehkan oleh orang tuanya.

7. Kamu seharusnya seperti saudara kamu / teman kamu

Membanding-bandingkan anak adalah hal yang sangat tidak baik. Pada dasarnya, setiap anak dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu jangan pernah membandingkan satu anak dengan anak yang lain. Hal ini dapat membuat anak merasa minder dan hilang rasa percaya diri, dan anak enggan untuk menceritakan masalahnya pada orang tua.

8. Berlebihan memberi pujian “kamu adalah anak yang tidak terkalahkan dan selalu menang”

Memberikan sugesti positif pada diri anak memanglah hal yang penting, tapi orangtua juga harus tahu batasan-batasan yang harus kita perhatikan dalam memberikan sugesti pada anak. Saat anak mendapatkan sebuah kemenangan atau keberhasilan, akan lebih baik jika Anda mengajarkan anak untuk bersyukur kepada Tuhan. Jangan terlalu sering memberikan pujian, karena hal ini akan menjadi beban bagi si anak, saat anak mengalami kekalahan atau kegagalan maka ia akan merasa takut dan kecewa yang mendalam. Tentu hal ini akan berdampak buruk bagi perkembangan mental anak. Oleh sebab itu, berikanlah pujian yang sederhana dan lebih baik mengajarkan anak untuk bersyukur atas apa yang didapatnya.

9. “Kamu selalu saja…. “

Kata selalu berarti sering, sebaiknya pikirkan kata-kata yang akan kita keluarkan pada anak, ketika anak melakukan kesalahan. Misalnya saja “ kamu selalu bangun telat “ dengan mengatakan hal tersebut, maka anak tersugesti bahwa bangun telat adalah hal yang wajar, karena “ aku memang selalu bangun telat ”. Gunakanlah kata-kata yang lebih lembut, tanyakan dengan penuh kelembutan mengapa anak sering bangun telat. Cara ini akan lebih efektif untuk membuat anak lebih terbuka dan mau bercerita kepada orangtua.

10. “Kamu tidak pernah menurut apa kata bunda”

Perkataan kita adalah sebuah doa bagi anak-anak kita. Gunakanlah kata-kata yang lembut ketika menegur putra putri tercinta, tanyakan pada mereka “ apa yang kamu inginkan nak / kamu pengen gimana “ cara ini akan lebih baik dari pada mengatakan “ kamu tidak pernah … “. Jika Anda mengatakan hal tersebut berulang kali, maka otomatis anak akan tersugesti bahwa dirinya tidak perlu menuruti apa kata orangtua, tidak mau mendengar kata orangtua. Karena dalam diri mereka tertanam, jika mereka tidak perlu menurut pada orangtua.

11. “Bukan begitu, sini bunda aja yang ngerjain”

Kalimat tersebut biasanya seringkali diucapkan oleh Anda, ketika Anda mulai merasa tidak sabar melihat pekerjaan anak. Jangan memberikan anak celaan, karena membuat anak merasa bahwa dirinya tidak mampu untuk menyelesaikan pekerjaannya dan hal ini juga membuat anak tidak percaya diri dalam melakukan sesuatu. Lebih baik jika Anda bertanya “ apa yang bisa bunda bantu nak ? / kamu butuh bantuan bunda gak ?? ” tentu kalimat tersebut sangat berbeda, yang satu terkesan meremehkan dan yang satu lagi terkesan jika Anda selalu ada untuk membantu mereka.

12. “Hey diam kamu !! “

Anak-anak membuat suatu keributan setiap hari sepertinya sudah menjadi kebiasaan, dan hal ini membuat orang tua stress. Dan sering kali orang tua mengeluarkan kata-kata yang terkesan membentak si anak “ hey diam kamu “. Alangkah baiknya jika mengganti kalimat tersebut dengan kalimat yang lebih lembut seperti “ nak suaranya di kecilkan ya sayang “. Tentu akan beda sekali kesan yang didapatkan anak, dan mereka akan lebih nyaman ketika Anda memberikan kalimat perintah yang lembut dibandingkan dengan membentak anak.

13. Terserah kamu..

Kata terserah adalah kata yang menyatakan bahwa tidak ada keputusan yang bisa diambil. Sebaiknya jangan mengatakan kata “ terserah.. “ pada anak. Karena jika kita menggunakan kata “ terserah “ ketika mereka bertanya, maka anak akan bingung dalam memutuskan sesuatu. Misalnya saja ketika membeli mainan, jika anak menanyakan apa yang boleh dibeli, maka orangtua harus bisa memberikan sebuah pengertian, contoh  “ minggu lalu kan kamu sudah beli mobil-mobilan, gimana kalau kamu beli mainan yang lainnya supaya tidak bosan “. Tentu hal ini akan membuat anak merasa di pedulikan oleh orangtuanya. Dengan memberikan pengertian pada anak maka anak akan merasa orangtuaa adalah penasehat yang baik dan tepat untuk dirinya.

14. Itu saja tidak bisa (bodoh) 

Mungkin kata ini terdengar sepele, tetapi akibatnya luar biasa bagi anak. Kata “itu saja tidak bisa”, akan terpendam jauh dalam otak bawah sadarnya sehingga anak terosebsi bahwa ia tidak bisa melakukan apapun alias tidak mampu dalam hal apapun. Selain itu dengan kata itu kita sudah meruntuhkan dan mengecilkan semangatnya.

15. Kata kata yang bersifat menakutinya

Untuk mengurangi atau membuat anak tidak nakal, atau ingin melarang anak untuk melakukan suatu hal, kadang kala orangtua seringkali menakuti anak-anak dengan kata-kata, “nanti mama panggil polisi”, “jangan kesana, ada hantunya”. Mungkin dalam masa kanak-kanaknya anak-anak belum mengerti dan terlalu berpengaruh akan kata-kata tersebut. Namun ketika anak tumbuh menjadi dewasa, anak cenderung takut mencoba atau melakukan suatu hal baru, sehingga anak tidak berani untuk berekplorasi dalam mencapai cita-citanya.

16. Kata Jangan…atau tidak boleh

Kata-kata ini juga umum, yang seringkali orangtua ucapkan. Kata jangan atau tidak boleh sebenarnya bukan hanya tidak efektif tetapi tidak berpengaruh sama sekali dengan perbuatan anak. Justru kata “jangan” atau “tidak boleh” inilah yang membuat anak penasaran untuk melawan atau melakukan hal sebaliknya. Bahkan, orang dewasapun senang melakukan hal yang biasanya dilarang oleh kata “jangan” atau “tidak boleh” dalam sebuah peraturan.

17. Kata Kata yang menjanjikan sesuatu

Saat anak merengek menginginkan sesuatu, terlepas dari suatu kebutuhan anak, orangtua tanpa sadar seringkali megiming-ngimingkan sesuatu untuk anak sebagai hadiah atau imbalan. Seperti, “kembalikan mainan temanmu, nanti mama belikan buat kamu” atau jika anak melakukan sesuatu, orangtua berjanji akan mengajaknya ke suatu tempat atau berjanji membelikan sesuatu untuknya.

Namun kenyataannya orangtua segera lupa akan janjinya setelah berlalunya waktu atau memang tidak berniat untuk melakukannya karena hanya untuk mengelabui anak. Tetapi tidak demikian halnya dengan anak. Anak tetap menagih janji orangtua dan orangtua dengan berbagai alasan berkelit untuk tidak memenuhi janjinya. Atau orangtua hanya sekedar untuk “menipu” anak dengan janjinya tersebut. Hal ini tidak hanya membuat anak kecewa atau pesimis tetapi juga menanamkan mental pembohong kepadanya. Anak akan belajar berbohong itu biasa seperti yang orangtuanya lakukan kepadanya.

Walaupun terkadang kita kesal ketika melihat anak melakukan kenakalan, namun kita harus paham apa penyebab dari kenakalan mereka. Jika orangtua merasa harus menunjukkan ketegasan pada anak, kendalikan emosi dan kontrol kalimat yang akan membuat anak semakin memberontak, sakit hati bahkan tidak percaya pada orangtua Berikan anak pengertian yang lembut, dan gunakan bahasa yang mudah dipahami anak.

Kalimat Pengganti Ketika Menghadapi Kenakalan Pada Anak

  • Jangan melompat di atas kasur → Sayang main  lompat-lompatnya di taman aja yuk..
  • Jangan rebutan → Main nya gantian ya nak..
  • Jangan berteriak  → Sayang kecilkan dikit yaa suaranya..
  • Jangan lari-lari di dalam rumah → Nak, lari-larinya di taman aja ya..
  • Jangan buang sampah di situ  → Nak yuuk belajar buang sampah ditempat nya..
  • Jangan lelet / lambat  → Yuk nak cepat sedikit
  • Jangan makan dengan tangan kiri  → Makannya dengan tangan bagus ya anak ku..
  • Jangan sedih  → Senyum dulu dong nak..
  • Jangan berantakan  → Jangan lupa di beresin ya nak..
  • Jangan jorok  → Jangan lupa dibersihkan ya nak/ jaga kebersihan nya ya nak..

Akan lebih baik jika kita mampu mengolah kata dan kalimat yang akan kita lontar kan pada anak. Gunakan kata-kata yang lembut dan mudah dimengerti anak. Hindari menyakiti hati anak apalagi membuat anak merasa dendam. Biasakan berkomunikasi dengan anak. Dengarkan apa yang ingin anak katakan atau ceritakan. Jangan menyela anak, karena hal tersebut bisa membuat anak enggan untuk berbagi cerita.

Bertutur katalah dengan baik, lembut dan sopan, juga berperilaku yang baik dan terpuji dihadapan anak. Karena anak akan meniru apa yang orang tua mereka tunjukkan dan ajarkan dan jangan pernah membentak anak, karena membentak akan merusak mental anak bahkan menyebabkan terjadinya trauma pada anak.

Sponsors Link
, , , , ,
Post Date: Friday 06th, January 2017 / 08:13 Oleh :
Kategori : Parenting