Sponsors Link

6 Resiko Hipertermia pada Anak yang Berbahaya

Sponsors Link

Hipertermia pada anak terjadi saat suhu tubuh meningkat secara drastis dari suhu normal. Kondisi ini bisa saja terjadi terutama saat sistem yang mengatur suhu tubuh sudah tidak mampu lagi menahan suhu panas yang berasal dari lingkungan sekitar. Kondisi hipertermia perlu diwaspadai agar bisa segera ditangani. Dengan adanya penanganan hipertemia yang tepat dan cepat maka diharapkan agar anak bisa terhindar dari bahaya komplikasi yang kemungkinan bisa ditimbulkan oleh hipertermia. Beberapa bahaya komplikasi akibat dari hipertermia pada anak antara lain sebagai berikut.

1. Gangguan Koordinasi Tubuh

Anak yang menderita hipertermia bisa saja mengalami gangguan dalam hal koordinasi gerakan tubuh. Akibatnya gerakan tubuh anak menjadi tidak terpadu dan gerakan anak bisa saja menjadi lebih lamban daripada biasanya. Pada dasarnya kasus ini berhubungan pula dengan ciri-ciri gangguan saraf pada bayi saat ia mengalami kondisi hipertermia.

2. Denyut Jantung Tidak Beraturan

Denyut jantung yang tidak beraturan cenderung disebut dengan istilah aritmia. Kondisi ini umumnya terjadi karena adanya impuls elektrik yang pada dasarnya berfungsi untuk mengatur detak jantung tidaklah bekerja dengan baik dan optimal. Pada kasus ini denyut jantung anak bisa saja berdetak semakin cepat atau mungkin bisa juga semakin lambat. Yang jelas penderita aritmia pada anak akan mengalami irama jantung yang tidak teratur.

3. Kram Otot

Seperti saat sedang menderita gejala influenza pada bayi dan cara mengatasinya maka suhu tubuh yang naik terkadang juga disertai dengan kondisi tidak enak badan dan timbulnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu. Terkadang anak mengalami kram otot sehingga ia tidak dapat bergerak dengan leluasa. Selain mengalami kram otot ia juga terkadang mengalami penyebab kejang pada bayi. Tubuhnya pun terasa kaku dan bahkan terkadang terasa sakit bila digerakkan. Oleh karena itu kebanyakan anak yang menderita hipertermia tidak bisa melakukan banyak aktivitas seperti sedia kala.

4. Emosi Labil

Hipertermia bisa berdampak buruk pula terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini. Anak bisa saja menjadi mudah marah. Sebab saat mengalami hipertermia maka anak akan merasa tidak enak pada kondisi tubuhnya. Ditambah lagi bila naiknya suhu tubuh disertai pula dengan kepala pusing atau kondisi sakit pada bagian tubuh lainnya. Maka tentu saja emosi anak menjadi semakin labil dan anak menjadi lebih mudah marah. Selain mudah marah tampaknya anak yang menderita hipertermia juga lebih mudah merasa bingung atau mengalami disorientasi.

5. Perubahan Warna Kulit

Saat seorang anak mengalami hipertermia maka ia juga akan mengalami perubahan warna kulit. Umumnya warna kulit anak akan memerah. Biasanya hal ini terjadi saat anak tidak mampu menahan rasa panas yang dialaminya. Kondisi demam reumatik pada anak atau suhu tubuh yang tinggi akan membuat anak merasa tidak enak badan sehingga ia cenderung menahan rasa tidak nyaman tersebut.

6. Mengalami Koma

Koma disebut terjadi saat anak mengalami keadaan tidak sadar dalam jangka waktu tertentu. Koma bisa saja terjadi selama beberapa hari ataupun berbulan-bulan. Ketidaksadaran yang dialami oleh penderita koma bisa saja disebabkan oleh menurunnya aktivitas di dalam otak. Hal ini bisa saja terjadi karena dipicu oleh beberapa kondisi seperti misalnya penyebab demam pada anak. Pada saat koma tentunya anak tidak dapat memberikan respons terhadap suara ataupun rasa sakit yang muncul.

Hipertermia pada anak tentunya perlu diwaspadai. Namun sebaiknya dilakukan berbagai upaya pencegahan untuk menghindarkan anak dari bahaya hipertermia tersebut.

Sponsors Link
, , , ,
Post Date: Tuesday 06th, November 2018 / 23:21 Oleh :