Sponsors Link

Ginekomastia pada Remaja – Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Sponsors Link

Seiring perkembangan usianya anak memasuki masa peralihan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Menjelang masa remaja anak mulai menunjukkan tanda-tanda anak mulai memasuki usia puber, seperti perubahan fisik, hormonal dan perkembangan maturitas seksual anak. Beberapa masalah terkadang terjadi saat anak memasuki usia remaja, salah satunya adalah penyakit ginekomastia pada remaja. Sesuai namanya, penamaan penyakit ini berasal dari kata gyneco yang bermakna wanita, kata mastia yang berarti payudara. Penyakit ginekomastia adalah kondisi pembesaran kelenjar mamae (payudara) yang dialami oleh laki-laki.

Gejala dan Penyebab

Meskipun seringkali ginekomastia terjadi secara alami, namun dapat juga menandakan terjadinya penyakit yang serius, dan tentunya membuat anak laki-laki merasa malu. Sebab, ciri-ciri payudara anak mulai tumbuh pada usia remaja biasanya terjadi pada anak perempuan. Penderita ginekomastia pada remaja akan mengalami pembesaran payudara pada satu atau kedua payudara. Hal ini terjadi karena perubahan dalam jaringan penunjang payudara, pertumbuhan (proliferasi) duktus kelenjar mamae, dan penambahan pembuluh darah (vaskularisasi). Sehingga payudara teraba kenyal dan kencang. Terkadang menjadi lebih sensitif terhadap sentuhan. Namun biasanya tidak menimbulkan gejala rasa sakit. Terkadang kondisi ginekomastia tampak mirip seperti kondisi lipomastia pada anak. Perbedaannya adalah kondisi lipomastia terjadi akibat tumbukan lemak tanpa adanya pembelahan (proliferasi) kelenjar payudara. Kondisi yang rentan terjadi pada remaja penderita ciri-ciri obesitas pada anak.

Selain terjadi pada usia remaja, ginekomastia juga dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dan juga pada pria usia dewasa. Beberapa faktor dapat menjadi pemicu pembesaran payudara remaja pria. Faktor pemicu utamanya adalah ketidakseimbangan hormon adalah penyebab utama ginekomastia. Beberapa kondisi berikut ini merupakan penyebab ginekomastia pada remaja yang paling sering terjadi.

  1. Peningkatan produksi estrogen

Hormon estrogen adalah hormon yang berperan dalam pertumbuhan karakter wanita, termasuk pertumbuhan payudara. Meskipun begitu, hormon ini tetap diproduksi oleh tubuh pria, bersamaan dengan produksi hormon testoteron, yang berperan dalam pembentukan karakter pria. Resiko ginekomastia meningkat apabila terjadi penurunan rasio hormon testoteron terhadap estrogen. Akibat produksi ektrogen yang tinggi atau penurunan produksi hormon testoron.

  1. Efek samping obat

Konsumsi obat-obatan tertentu dapat menimbulkan efek samping yang memicu ketidakseimbangan hormon estrogen dan testoteron anak. Misal, konsumsi obat antidepresan pada penderita depresi pada remaja, obat penenang diazepam, antibiotik jenis metronidazole, obat untuk mengatasi gejala penyakit maag pada anak seperti cimetidine dan omeprazole, dan juga efek samping pengunaan suplemen penambah masa otot jenis steroid anabolik.

  1. Penyakit tertentu

Penyebab ginekomastia pada remaja lainnya adalah dampak dari penyakit tertentu yang diderita anak. Remaja yang memiliki resiko bahaya obesitas pada anak rentan mengalami kondisi ini. Begitu juga mereka yang mengalami gejala sirosis hati pada anak. Selain itu, tumor pada testis, kelenjar adrenal dan kelenjar pituirary (hipofisis) juga dapat menganggu keseimbangan hormon anak.

Pengobatan ginekomastia pada remaja

Cara mengobati ginekomastia dilakukan dengan terlebih dahulu memastikan penyebab pembesaran payudara anak. Dokter membutuhkan riwayat gejala yang dirasakan anak dan juga konsomsi obat-obatan dan riwayat penyakit anak lainnya. Pemindaian mengunakan USG atau CT scan, diperlukan  sebagai tambahan informasi pemeriksaan fisik. Pengobatan ginekomastia dilakukan dengan beberapa terapi berikut,

  • Terapi psikologis – jika ginekomastia terjadi karena efek pubertas anak, biasanya anak hanya membutuhkan terapi untuk menenangkan hatinya. Karena seiring perkembangan masa pubertas anak, ginekomastia akan hilang dengan sendirinya.
  • Terapi bedah – hanya dilakaukan apabila ginekomastia menetap hingga lebih dari 4 tahun atau memiliki ukuran lebih besar dari 6 sentimeter. Terkadang juga dilakukan apabila mengakibatkan gangguan psikologis dan stres pada anak.

Terkadang, dokter juga memberikan terapi hormon untuk mengembalikan keseimbangan rasio hormon estrogen dan testoteron anak. Sehingga, penderita ginekomastia pada remaja perlu melakukan terapi secara berkala, agar dokter dapat mengawasi perkembangan ginekomastia anak. Evaluasi perlu dilakukan setiap 3 atau 6 bulan sekali, dan rutin dilakukan hingga kondisi anak membaik.

Sponsors Link
, , , , , , , , ,
Post Date: Monday 03rd, December 2018 / 03:50 Oleh :