Sponsors Link

Filariasis pada Anak – Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Sponsors Link
Seperti halnya dengan cacingan, penyakit filariasis juga disebabkan oleh cacing, tepatnya cacing jenis filaria. Namun berbeda dengan cacing penyebab cacingan pada anak yang hanya menginfeksi sistem pencernaan anak, infeksi cacing filaria dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh anak. Seperti infeksi filaria pada kulit, rongga tubuh dan sistem limfatik. Salah satu jenis infeksi filariasis pada anak yang sering terjadi adalah filariasis limfatik. Yang terjadi karena infeksi cacing filaria pada sistem limfatik (atau getah bening) anak. Penyakit filariasis limfatik ini menimbulkan penyakit elefantiasis, atau lebih dikenal dengan nama penyakit kaki gajah.
Penyebab Filariasis
Jenis cacing mikrofilaria yang menular melalui perantaraan nyamuk merupakan penyebab utama filariasis. Setidaknya terdapat 3 spesies microfilaria yang menyebabkan filariasis pada anak di Indonesia, yaitu microfilaria wucheria bancrofti, brugia malayi, dan brugia timori. Mikrofilaria brugia malayi adalah penyebab 70 persen kasus filariasis di Indonesia. Penyakit ini menyebar melalui gigitan nyamuk anopeles farauti dan anopeles punctulatus. Selain dibawa oleh spesies nyamuk penyebab bahaya malaria pada anak ini, penyebaran juga dapat terjadi melalui gigitan nyamuk culex dan mansonia.
Saat nyamuk pembawa larva mikrofilaria mengigit anak, cacing tersebut menetap dalam jaringan limfa anak dan terus berkembang biak disana, serta bertahan hidup selama 6 sampai 8 tahun. Bahaya filariasis pada anak adalah penyakit ini seringkali terjadi saat anak berusia muda dan tidak terdeteksi, sehingga menyebabkan kerusakan tersembunyi pada sistem limfatik anak. Dan menyebabkan kondisi pembengkakan pada salah satu atau kedua ujung tungkai (limfedema), kondisi kaki gajah (elefantiasis), hingga cacat tubuh permanen.
Gejala Filariasis
Penderita filariasis dapat mengalami infeksi cacing filaria tanpa menunjukkan tanda-tanda sedang terjangkiti infeksi mikrofilaria. Namun, pada sebagian kasus lainnya gejala filariasis pada anak dapat teramati, apabila si kecil mengalami penyakit filariasis kronis atau akut.
1. Filariasis akut
Kondisi infeksi mikrofilaria akut terjadi apabila penyakit timbul dalam waktu singkat dan mendadak. Terdapat dua jenis filariasis akut, yaitu adenolimfangitis akut (ADL) dan limfangitis filaria akut (AFL). Penderita filaria akut akan mengalami beberapa gejala filaria pada anak berikut ini.
  • Infeksi filaria menjadi penyebab demam pada anak yang berulang, dengan kekhasan berupa demam yang hilang ketika anak beristirahat, dan muncul kembali ketika beraktivitas. Biasa berlangsung selama 3 hingga 5 hari.
  • Seperti halnya penderita infeksi kelenjar getah bening pada anak, penderita filariasis akut juga mengalami pembengkakan pada kelenjar limfa. Biasanya pada daerah lipatan paha atau ketiak.
Gejala ini umum terjadi pada penderita ADL. Sedangkan pada penderita AFL, gejala khas berupa benjolan kecil pada bagian tubuh tertentu terjadi karena penumpukkan cacing mikrofilaria yang sekarat.
2. Filariasis kronis
Sesuai namanya, filariasis pada anak kronis merupakan penyakit infeksi filaria yang telah berlangsung lama. Gejala filariasis akut tampak berupa limfedema, yaitu penumpukkan cairan sehingga menimbulkan pembengkakan pada tangan dan kaki. Gejala ini dapat berkembang menjadi kerusakan dan penebalan kulit dan menimbulkan penyakit kaki gajah.
Pengobatan Filariasis
Kabar baiknya, pengobatan filariasis relatif mudah. Pemberian obat-obatan jenis diethylcarbamazine (DEC) kerap diberikan sebagai langkah untuk mengatasi dan pencegahan filariasis. Pemerintah juga melakukan program bulan eliminasi filarisis setiap bulan oktober. Obat jenis DEC dapat diberikan dengan dosis 6 mm per kilogram berat badan anak. Namun, tidak disarankan diberikan kepada anak berusia kurang dari dua tahun.
Waspadai kondisi anak setelah komsumsi obat ini, karena dapat menyebabkan gejala demam pada anak, mual hingga sakit kepala. Selain itu, obat untuk mengatasi filariasis pada anak juga menyebabkan kantuk, sehingga sebaiknya dikonsumsi pada sore atau malam hari sebelum tidur.

Sponsors Link
, , , , , , , , , , ,
Post Date: Monday 03rd, December 2018 / 03:47 Oleh :
Kategori : Kesehatan