Sponsors Link

15 Cara Mengatasi Anak yang Suka Mencuri

Sponsors Link

Telah lazim diketahui umum bahwa mencuri adalah perbuatan yang sangat tercela dan bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran serta moralitas. Mencuri artinya mengambil sesuatu barang yang bukan hak kita. Bagi orang dewasa yang tumbuh dengan ajaran yang baik tentang nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan, perbuatan mencuri tentunya sangat salah untuk dilakukan sehingga mereka akan menghindari perbuatan tersebut. Bagi para orang tua, kejujuran adalah salah satu nilai yang selalu ditekankan ketika mendidik anak. Sangat penting bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak agar mereka menjadi orang yang mempunyai karakter baik nantinya.

ads

Itulah sebabnya sangat sulit bagi orang tua untuk menerima ketika anak melakukan perbuatan mencuri. Padahal dalam keseharian, sang anak tidak pernah berperilaku menyimpang. Sebenarnya, kebiasaan mencuri tidak bisa dilihat hanya dari perilaku anak sekilas saja. Baik anak yang bermasalah ataupun yang penurut bisa melakukan perbuatan tersebut. Lebih jauh lagi, mencuri erat kaitannya dengan berbohong. Anak berbohong untuk menutupi perbuatannya tersebut agar tidak ketahuan.

Mengapa mencuri?

Walaupun kita sudah tahu bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang salah dan berdosa, serta masih banyak cara lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa harus mendapatkannya melalui pencurian. Namun bagi orang yang terbiasa mencuri, perbuatan ini mempunyai daya tarik tersendiri. Berawal dari mencoba-coba, lalu bisa merambat kepada pencurian yang serius. Daya tarik tersebut bagaikan perangkap bagi seorang pencuri untuk terus mencuri. Misalnya, ada kepuasan karena berhasil memiliki barang orang lain, merasa berani dan pintar karena melakukan hal yang menegangkan dan tidak tertangkap, serta memiliki uang untuk membeli barang apapun yang diinginkan. Maka kegiatan mencuri ini dapat menjadi semacam candu yang membuat pelakunya sulit untuk berhenti.

Penyebab anak mencuri

Anak yang suka mencuri tentu memiliki alasan dan penyebabnya tersendiri yang membuat mereka melakukan perbuatan tersebut. Ada beberapa sebab yang membuat seorang anak mencuri, yaitu:

  • Sifat anak yang impulsif – Impulsif berarti anak melakukan sesuatu karena dorongan hatinya yang kuat. Ketika ia menginginkan sesuatu, ia harus mendapatkannya dengan segera. Karena itulah anak sampai melakukan perbuatan mencuri. Sebab orang yang impulsif seringkali tidak memikirkan akibat dari tindakannya sama sekali, apalagi anak kecil yang belum bisa mengendalikan dorongan hatinya dengan baik.
  • Membutuhkan perhatian – Bisa jadi anak mencuri karena menginginkan perhatian dari orang tua. Mencuri adalah jalan anak untuk mendapatkan perhatian tersebut, mungkin saja karena semua usaha baiknya untuk mendapatkan perhatian tidak digubris oleh orang tua. Ketika satu-satunya perhatian yang didapat anak adalah ketika dia berbuat kenakalan, maka ia akan mengulanginya lagi demi mendapatkan perhatian orang tuanya.
  • Anak egois – Mencuri bisa juga dilakukan oleh anak-anak yang sangat egois, dimana ia merasa bahwa semua keinginannya harus dipenuhi. Biasanya sifat egois ini terbentuk dari didikan orang tua yang sangat memanjakan dan tidak pernah menolak keinginan anak. Sehingga anak merasa bahwa semua keinginannya harus didapatkan walaupun dengan cara mencuri.
  • Anak bermasalah – Anak tipe ini adalah anak yang mempunyai masalah dengan perilakunya, atau memiliki bawaan sebagai penderita kleptomania, yaitu masalah psikologis dimana seseorang harus mencuri karena dorongan mentalnya yang tidak dapat ia kendalikan.
  • Tidak mengerti  – Anak yang lebih kecil, misalnya balita seringkali belum mengerti tentang konsep kepemilikan. Mereka mempunyai pola pikir menganggap bahwa barang milik orang lain adalah miliknya juga, dan mereka dapat mengambilnya sesuka hati mereka karena mereka menginginkan barang tersebut.
  • Tidak percaya diri – Anak yang mencuri bisa juga mengharapkan penerimaan dari lingkungannya, mereka merasa bahwa untuk dapat diterima maka mereka harus melakukan suatu hal yang ekstrim seperti mencuri. Oleh karena itu mereka mencuri untuk diakui oleh teman-temannya. Dengan melakukan perbuatan buruk, anak merasa rasa percaya dirinya meningkat karena berani melanggar peraturan.
  • Melakukan pembalasan – Perbuatan mencuri yang dilakukan oleh anak bisa juga disebabkan karena ia ingin melakukan pembalasan kepada orang lain yang membuatnya susah. Misalnya, mencuri barang milik teman yang sering mengejeknya.
  • Takut meminta – Situasi seperti ini bisa juga dialami anak yang takut kepada orang tuanya. Biasanya karena orang tua adalah sosok yang galak dan kaku, sehingga ketika memiliki keinginan maka anak takut untuk mengungkapkannya. Sebagai gantinya, untuk mendapatkannya, anak malah mencuri barang yang dia inginkan tersebut.

Situasi yang mendukung perbuatan anak

Anak-anak dapat melakukan perbuatan mencuri apabila situasinya mendukung mereka. Adapun situasi yang dimaksud antara lain:

  • Kurangnya pengawasan dari orang tua atau pihak berwenang di suatu tempat yang membuat anak leluasa mengambil barang.
  • Anak tidak pernah mendapatkan pelajaran moral mengenai baik, buruk, benar dan salah.
  • Keadaan ekonomi keluarga anak yang kurang baik, sementara teman-temannya berkecukupan dapat mendorong anak yang kurang pengarahan untuk mencuri.
  • Lingkungan tempat anak dibesarkan yang minim nilai moral dimana kegiatan mencuri adalah hal yang biasa.
  • Meniru apa yang dilihatnya di televisi atau di koran mengenai seorang pencuri dan ingin mencobanya apakah hal itu benar seperti yang dia tonton.
  • Anak bergaul dengan teman yang kurang mendapat pendidikan moral dari keluarganya sehingga memberikan pengaruh yang kurang baik seperti mencuri.

Lakukan hal ini jika anak mencuri

Semua orang tua tentu kaget dan barangkali langsung marah serta malu ketika mengetahui anaknya mencuri. Jika Anda mengalami hal seperti ini, ada beberapa cara mengatasi anak yang suka mencuri, yang sebaiknya dilakukan orang tua agar dapat mengatasinya dengan bijak. Salah menangani situasi bisa membuat anak makin terjerumus kepada kebiasaan buruknya.

1. Pertahankan sikap tenang

Memang sangat mengejutkan bila mendapati bahwa anak ternyata melakukan perbuatan yang sangat tercela seperti mencuri. Namun, ketika mendapatkan informasi seperti ini, langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adalah mencoba bersikap tenang. Ambil waktu untuk menenangkan diri dan menghalau amarah agar tidak terbawa emosi dalam menangani urusan anak yang mencuri.

ads

2. Coba pahami anak

Jika orang tua telah dapat bersikap tenang, maka ini adalah waktunya untuk mencoba memahami alasan dibalik perilaku anak yang mencuri barang tersebut. Pada tahap ini orang tua harus mencoba menempatkan diri dari sudut pandang anak untuk dapat memahami mengapa anak melakukan perbuatan mencuri tersebut.

3. Cari sebabnya dengan saksama

Cari tahu apakah perbuatan anak ini baru sekali dilakukannya atau telah berkali-kali dilakukan, dan kira-kira apa alasan serta penyebabnya yang mendorong anak untuk mencuri. Perhatikan, apakah anak mencuri barang yang dia butuhkan atau tidak. Cobalah berdiskusi dengan tenang bersama anak untuk mengetahui penyebabnya. Usahakan untuk mencari sampai ke inti masalahnya tersebut, dan buat anak mengerti bahwa perbuatannya tersebut tidak bisa dibenarkan.

4. Jangan menghukum, tapi memberi pelajaran

Bila anak telah mengakui perbuatannya, sebaiknya orang tua tidak memberi hukuman tetapi memberi pelajaran kepada anak. Hukuman akan membuat anak jera, tapi ia tidak akan mengerti konsekuensi dari perbuatannya. Dengan memberi pelajaran, orang tua dapat mengajarkan arti dari konsekuensi suatu perbuatan kepada anak, juga dapat menjadi cara mengatasi anak yang suka berbohong dan juga cara mengatasi anak yang suka memukul. Contohnya, katakan kepada anak bahwa ia harus mengembalikan barang yang dicurinya. Jika barang tersebut sudah tidak ada, buat anak menggantinya dengan memotong uang jajannya seharga barang tersebut dan mengembalikannya kepada sang pemilik aslinya.

5. Jelaskan konsekuensinya kepada anak

Selagi mendidik anak tentang betapa tidak baiknya perbuatan mencuri, orang tua juga dapat menjelaskan kepada anak bagaimana akibatnya jika ia mengambil barang yang bukan miliknya. Jelaskan bahwa mencuri sudah termasuk ke dalam perbuatan kriminal dan seorang pencuri beresiko untuk berurusan dengan pihak yang berwajib dan hukum. Mengetahui konsekuensi dari setiap perbuatan adalah cara mudah mendidik anak untuk minta maaf kepada orang lain. Agar anak dapat memahami perasaan orang yang barangnya dia curi, tanyakan juga kepada anak bagaimana perasaannya jika ada orang yang mengambil salah satu barang kesayangannya tanpa ijin.

6. Buat perjanjian

Untuk mencegah anak mengulangi lagi perbuatannya di masa depan, sebaiknya orang tua membuat perjanjian dengan anak. Jelaskan apa yang akan terjadi jika anak masih mengulangi perbuatannya. Misalnya, kali ini ia hanya harus mengembalikan barang curiannya dan meminta maaf. Tapi lain kali, ia akan kehilangan salah satu hak istimewanya selama beberapa waktu, dan terus tingkatkan konsekuensi yang harus diterima anak dalam penjelasan orang tua agar ia jera dan tidak mengulangi lagi.

7. Jangan mengungkitnya

Jika sudah bisa membuat anak mengerti mengenai konsekuensi dan perbuatannya yang salah, maka berhentilah sampai disitu. Beri kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan hal yang benar dan tidak mengulanginya lagi. Jangan mengungkit perbuatan salahnya di masa lalu, kecuali ketika anak mengulangi pencurian itu lagi.

8. Usahakan penuhi kebutuhan anak

Walaupun sehari-harinya semua kebutuhan anak sudah terpenuhi, hal itu tidak akan menghalangi anak yang memang memiliki niat untuk mencuri. Sebaliknya, mungkin memang ada orang tua yang kurang memperhatikan kebutuhan anak sehingga terjadilah perbuatan tersebut. Sebaiknya usahakan untuk memenuhi kebutuhan anak dengan baik, tapi tanpa memanjakannya secara berlebihan juga.

9. Beri perhatian lebih kepada anak

Anak yang kurang perhatian orang tua dapat mencoba mendapatkannya dengan cara yang buruk, yaitu mencuri. Karena itulah orang tua seharusnya menaruh perhatian yang sepantasnya kepada anak, walaupun mereka sibuk dengan karir atau kesibukan mencari nafkah. Dengan mempunyai perhatian kepada anak, akan mendekatkan hubungan anak dan orang tua sehingga anak tidak merasa perlu untuk berulah agar diperhatikan.

10. Bimbing dengan agama

Dalam agama pun telah diajarkan bahwa mencuri adalah perbuatan dosa. Anak yang mendapatkan cukup pendidikan agama tidak akan mudah untuk mencuri karena ia tidak mau masuk neraka dan berdosa karenanya. Orang tua dapat memberikan pendekatan secara agama dan menanamkan nilai agama kepada anak untuk mencegah anak mencuri atau mengulangi perbuatannya.

11. Ajarkan konsep nilai kepada anak

Sejak kecil, orang tua seharusnya mengajarkan konsep nilai yang benar kepada anak. Misalnya, konsep kepemilikan. Anak balita mungkin memang belum bisa membedakan antara miliknya sendiri dengan milik orang lain. Ia hanya tahu bahwa ia harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena itulah sangat penting untuk anak mengetahui perbedaan antara barang miliknya dan barang milik orang lain, agar pemahaman ini dapat terbawa dalam kepribadian anak sampai dewasa. Mengajarkan konsep nilai juga bisa menjadi cara mengajarkan disiplin pada anak dengan efektif.

12.  Selidiki pergaulan anak

Apabila orang tua sudah merasa mengajarkan nilai-nilai yang baik di rumah, tetapi anak melakukan perbuatan mencuri, maka lingkungan di luar rumahlah yang harus diselidiki. Cobalah untuk melihat bagaimana pergaulan anak sehari-hari. Bisa saja dorongan untuk mencuri yang timbul pada anak itu disebabkan karena pergaulannya di luar rumah. Mungkin saja anak merasa tidak percaya diri berada di antara teman-temannya sehingga ia merasa harus membuktikan diri dengan cara yang salah. Jika kasusnya seperti ini, orang tua dapat mendorong anak untuk mengembangkan minatnya sebagai cara meningkatkan rasa percaya diri anak sehingga ia pun dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasinya dengan baik.

Sponsors Link

13. Dekatkan diri kepada anak

Hubungan orang tua dan anak yang dekat memungkinkan orang tua untuk mengenal sifat anaknya dengan baik. Orang tua akan dengan mudah mengetahui kapan saatnya ada perilaku anak yang tidak biasa dengan mengenali tanda-tandanya lewat bahasa tubuh anak atau mengamati kebiasaannya sehari-hari. Dengan begini orang tua juga mudah mencari cara mengenali karakter anak. Kedekatan antara orang tua dan anak yang terjalin baik juga akan menjadi cara membuat anak lebih terbuka kepada orang tua dan lebih bisa menerima saran atau koreksi orang tua mengenai perbuatannya yang salah.

14. Jauhkan anak dari godaan

Anak yang mencuri kemungkinan tidak hanya mengambil barang saja tapi juga mengambil uang dari orang lain, baik itu temannya atau anggota keluarga di rumah. Mengenai pencurian uang, anak harus diajarkan sedini mungkin agar mempunyai pengertian tentang konsep uang. Orang tua bisa mengajarkan kepada anak mengenai nilai uang, dan katakan kepada anak bahwa uang harus menjadi urusan yang rahasia serta pribadi. Jika mempunyai uang, seharusnya disimpan di suatu tempat yang aman dan tidak mudah diambil orang lain. Jelaskan juga jika ada yang meminjam uangnya, maka harus diingat siapa yang meminjam, dan kapan akan dikembalikan.

15. Pujilah jika anak berbuat jujur

Untuk memotivasi anak bahwa perbuatan jujur selalu lebih baik daripada berbohong dan mencuri, berilah pujian ketika anak melakukan suatu hal yang jujur. Misalnya, ketika anak menemukan barang milik salah seorang anggota keluarga dan membawanya kepada orang tua, katakan kepadanya bahwa Anda bangga karena anak telah berusaha mengembalikan barang tersebut dan pemiliknya pasti sangat senang dibuatnya. Hindari mengatakan bahwa anda berterima kasih atas kejujurannya, sebab tidak semua anak berpikir tentang ketidakjujuran ketika menemukan barang hilang tersebut.

Kleptomania

Kebanyakan alasan anak melakukan pencurian adalah sesuatu yang disengaja, akan tetapi beberapa diantaranya disebabkan karena anak memiliki kecenderungan kleptomania. Gangguan psikologis ini, walaupun jarang terjadi namun membuat seseorang merasakan ketegangan sebelum mencuri, dan kelegaan saat berhasil melakukan pencuriannya. Mereka akan merasa bersalah setelahnya dan membuang barang curiannya. Kemungkinan seseorang yang menderita kleptomania ini juga menderita kelainan lain seperti kelainan makan atau kelainan obsesif kompulsif. Selain itu, orang tua perlu waspada jika anak yang sudah lebih besar tampak tidak merasa bersalah akan perbuatannya mencuri, tampak menunjukkan perilaku lain yang mengkhawatirkan, dan terus mengulangi perbuatan mencuri tersebut.

Kapan mencuri perlu diwaspadai

Jika perilaku mencuri pada anak ini berlangsung tidak hanya sekali tetapi berkali-kali, orang tua perlu mewaspadai adanya kasus yang lebih serius yang sedang terjadi dalam diri anak. Segera ambil tindakan sebelum masalahnya menjadi semakin besar dan merusak perkembangan mental anak kelak. Carilah pertolongan profesional atau beberapa pihak berikut ini yang dapat membantu mengatasi masalah pencurian pada anak:

  • Psikiater atau psikolog anak
  • Pemuka agama yang dikenal baik
  • Terapis atau konseling keluarga
  • Support grup yang berisi orang tua serta anak yang mempunyai masalah sama
  • Dokter keluarga, jika tidak memiliki rekomendari psikolog atau terapis
  • Konselor sekolah, terutama jika anak mencuri di sekolah atau dari teman-temannya

Apapun penyebabnya, jika pencurian menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh anak atau remaja Anda, sangat penting untuk mencari bantuan pihak terapis agar akar masalahnya dapat diatasi. Juga sangat penting untuk mengawasi perbuatan anak secara rutin, melihat dan membaca gerak geriknya jika ada yang menampakkan kecenderungan keluar dari kewajaran. Jauhkan godaan untuk mencuri dari anak dan tetap berikan konsekuensi yang masuk akal untuk perbuatan tersebut agar perbuatan mencuri yang berulang bisa dicegah.

Sponsors Link
, , , , , ,
Post Date: Friday 20th, January 2017 / 08:14 Oleh :
Kategori : Parenting