Sponsors Link

14 Cara Mendidik Anak yang Suka Membantah

Sponsors Link

Anak-anak yang manis dan penurut pastinya sangat diinginkan oleh para orang tua, karena semua orang yang telah menjadi orang tua tahu dengan pasti betapa lelahnya berusaha untuk membuat seorang anak menurut atau bagaimana sulitnya mendisiplinkan seorang anak. Mengasuh anak memang tidak pernah menjadi pekerjaan yang mudah bagi para orang tua, karena sebenarnya para orang tua pun sedang belajar bagaimana cara terbaik untuk menjadi orang tua yang bisa membimbing dan membesarkan anak-anaknya dengan benar.

Karena itulah, jika ada anak yang senang membantah ketika diberi nasihat oleh orang tua, hal itu seringkali membuat orang tua sangat sedih. Sayangnya memang apa yang akan disampaikan orang tua tidak bisa diserap dengan baik oleh anak. Entah itu penyebabnya datang dari cara menyampaikannya atau karena hal lain, akhirnya anak jadi sering membantah dan melawan perkataan orang tua. Bahkan tidak hanya melawan, anak bisa menjadi agresif kepada orang tua.

Penyebab Anak Suka Membantah

Anak yang suka membantah tentu saja tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada hal yang menyebabkan anak menjadi cenderung suka membantah orang tua, dan seringkali orang tua tidak tanggap atau tidak menyadari pemicunya. Cobalah simak beberapa hal berikut ini yang dapat menjadi penyebab anak membantah orang tua:

  • Anak merasa kecewa kepada orang tua – Mungkin saja ada beberapa hal yang membuat anak merasa kecewa kepada orang tua, tetapi dia belum mampu mengungkapkan kekecewaannya itu dalam bentuk verbal karena perbendaharaan katanya belum banyak. Bisa jadi, orang tua mempunyai kebiasaan untuk berjanji kepada anak lalu tidak menepatinya. Contohnya, orang tua pernah menjanjikan suatu hal kepada anak berupa reward jika sang anak berkelakukan baik atau berprestasi di sekolah, namun tidak pernah menepati hal tersebut. Jika hal itu kerap dilakukan, bisa saja anak lambat laun akan menumpuk kekecewaan kepada orang tuanya dan ditunjukkan melalui perilaku membantah orang tua.
  •  Orang tua bersikap otoriter – Terkadang orang tua bahkan tidak sadar bahwa mereka bersikap otoriter sehingga membuat anak ingin membantah untuk menegaskan pendiriannya sendiri. Biasanya orang tua merasa bahwa sikap memerintah adalah sikap yang paling cocok untuk membuat anak menurut, namun kenyataannya tidak begitu. Anak akan mudah melawan jika ia merasa tidak punya kebebasan untuk memutuskan sendiri apa yang diinginkannya.
  • Ada keinginan anak yang tidak dapat terpenuhi – Anak juga membantah untuk menunjukkan ketidakpuasannya terhadap suatu hal. Biasanya, ada keinginannya yang tidak terpenuhi atau tidak dipenuhi oleh orang tuanya, jadi ia memutuskan menunjukkan rasa kecewa dengan melawan dan membantah orang tuanya dengan harapan orarng tuanya akan sadar dan mengabulkan apa yang dia minta.
  • Pengaruh pergaulan anak – Anak-anak juga bisa mempelajari teladan tentang sikap kepada orang tua melalui lingkungan pergaulannya. Jika orang tua kurang mengawasi pergaulan anak, bisa jadi ia akan mendapat pengaruh yang buruk dari lingkungannya sehingga berani membantah dan tidak lagi menaruh rasa hormat kepada orang tua.
  • Terlalu dimanja – Perilaku ini kerap muncul pada anak-anak yang sangat dimanja dan terbiasa mendapatkan apa saja keinginannya. Sehingga anak-anak tidak lagi merasa bahwa mereka perlu menghormati orang tua dengan mematuhi perintah orang tua, karena mereka sudah terlalu lama ditunjukkan sikap yang permisif dan tidak pernah diajari tentang konsekuensi terhadap sesuatu hal.
  • Mencontoh orang tua – Bisa juga tanpa disadari orang tualah yang memberi contoh kepada anak mengenai membantah. Ketika anak terbiasa melihat seorang istri membantah suaminya atau sebaliknya, atau melihat ayah dan ibunya terbiasa membantah orang tua mereka, maka anak akan menjadikan hal ini sebagai teladan yang harus ditiru. Anak-anak akan menganggap bahwa sikap ini adalah suatu hal yang wajar untuk dilakukan.
  • Hubungan anak dan orang tua yang kurang harmonis – Anak juga dapat membantah orang tua karena hubungan yang kurang harmonis. Karena kurangnya ikatan dengan orang tua, maka anak juga tidak menumbuhkan rasa hormat yang semestinya kepada orang tuanya. Orang tua yang tidak memahami anaknya pun akan kesulitan mencari celah untuk menyampaikan maksudnya kepada sang anak.
  • Orang tua kurang membimbing anak – Kurangnya waktu yang disisihkan untuk anak dan kurangnya perhatian orang tua kepada anak juga dapat menjadi pemicu anak yang suka membantah. Anak tidak mendapatkan bimbingan dengan semestinya tentang bagaimana cara bersikap yang sopan dan patut kepada orang tua, karena itu dia tidak merasa kalau membantah orang tua adalah sesuatu hal yang salah.
  • Pemilihan waktu yang kurang tepat – Bisa juga anak membantah karena orang tua memilih waktu yang tidak tepat untuk menyampaikan maksudnya. Misalnya ketika anak sedang asyik melakukan sesuatu tiba-tiba orang tua menyuruhnya untuk melakukan kegiatan lain. Seringkali anak akan menolak dan bahkan membantah jika dalam keadaan seperti ini , karena merasa keasyikannya terganggu.

Mengatasi Anak yang Suka Membantah

Sebagai orang tua, ukuran kesuksesan adalah jika melihat buah hati dapat tumbuh menjadi anak yang penurut, mandiri, dan baik akhlak serta perilakunya. Karena itu ketika menghadapi anak yang suka membantah, terkadang orang tua menjadi bingung mengenai bagaimana mengatasi anak yang suka membantah. Beberapa hal berikut ini bisa menjadi acuan bagi orang tua bagaimana cara mendidik anak yang suka membantah:

1. Perbaiki komunikasi dengan anak

Komunikasi yang kurang lancar dengan anak akan membuat orang tua sulit menyampaikan maksudnya kepada anak. Karena tidak tahu cara berkomunikasi yang tepat dengan anaknya, orang tua akan sulit membuat anak memahami apa yang ingin disampaikan, sehingga anak akan membantah. Cobalah untuk memperbaiki cara dan intensitas berkomunikasi dengan anak. Misalnya, sering menanyakan kabar anak ketika Anda sedang berada di kantor. Tanyakan kepada anak bagaimana kesehariannya, minta ia untuk bercerita segala hal yang ia lakukan selama Anda sedang tidak mendampinginya.

2. Dengarkan anak

Kebanyakan orang tua memang ada yang tidak mau meluangkan waktu untuk mendengarkan aspirasi anak karena menganggap anak – anak belum memiliki pendirian yang benar. Sikap ini sangat tidak membantu dalam mengembangkan karakter anak. Dengan bersikap begini, anak justru akan merasa dikekang dan tidak didengarkan. Anda bisa mencoba meluangkan waktu untuk bertanya kepada anak mengenai apa sebenarnya yang ia butuhkan atau apa yang ia mau ketika sedang membantah. Berilah anak kesempatan untuk berbicara dan mengungkapkan keinginannya. Bantu anak memilih kata – kata ketika ia kesulitan mengungkapkan keinginannya dalam bentuk verbal.

3. Kurangi memanjakan anak

Ini adalah hal yang menyulitkan ketika orang tua terlalu menuruti segala keinginan anak dan tidak pernah menolak apapun yang ia minta. Anak tidak akan tahu bagaimana rasanya ketika harus mendapatkan sesuatu hal dengan kerja keras, dan karena itu ia akan memberontak ketika tiba – tiba orang tuanya tidak mengabulkan apa yang ia minta. Memanjakan anak tentunya boleh saja, tapi sebaiknya hal itu dilakukan dengan proporsional. Beri anak reward atau hadiah ketika ia sudah bisa melakukan satu hal yang baik. Misalnya, ketika ia sudah bisa membereskan mainannya sendiri tanpa disuruh, maka itulah saat yang tepat untuk Anda memberinya reward.

4. Ajari anak untuk lebih mandiri

Anak yang lebih mandiri akan mudah juga untuk menyampaikan perasaan dan keinginannya dengan tepat sehingga tidak perlu membantah setiap kali orang tua menasihati atau menyuruhnya melakukan sesuatu. Anda dapat mengajarkan kemandirian kepada anak secara bertahap. Contohnya, dimulai dari membiasakan anak untuk memakai bajunya sendiri, belajar makan sendiri, dan lainnya sampai ia benar – benar bisa berinisiatif untuk melakukan keperluannya sendiri. Belajar mandiri adalah cara untuk meningkatkan rasa percaya diri anak kelak.

5. Pertahankan sikap tegas

Ketika anak membantah apa yang Anda katakan, jangan mengalah begitu saja. Jika Anda mengalah, anak akan belajar bahwa ia dapat menghindari perintah dengan bersikap membantah, dan lain kesempatan ia akan mengulanginya kembali. Pertahankan sikap Anda yang tegas. Misalnya, jika Anda menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebab sudah waktunya dan ia menolak, tegaskan bahwa waktu bermainnya sudah habis. Begitu pula ketika menetapkan waktu tidur yang baik untuk anak atau ketika mencari cara mengatasi anak yang susah makan, pastikan ia mengerti bahwa Anda bersungguh – sungguh dengan peraturan tersebut dan tidak ada celah baginya untuk menghindar.

6. Tahan emosi

Dibantah oleh anak memang akan membuat emosi naik dan Anda akan merasa kesal. Namun usahakan untuk menahannya dan tetap bersikap tenang. Menyampaikan apa yang Anda inginkan dengan sikap tenang di hadapan anak sangat penting agar anak tidak menjadi semakin membantah kemauan Anda.

7. Beri tahu anak konsekuensinya jika membantah

Untuk membuat anak berhenti atau belajar bahwa membantah itu bukanlah perbuatan yang baik, orang tua harus memperkenalkan anak dengan konsekuensi dari perbuatannya. Katakan pada anak jika ia tidak mengikuti peraturan, maka konsekuensinya adalah ia akan kehilangan waktu untuk melakukan hal yang disukainya. Contohnya, jika anak tidak mau mandi, maka konsekuensinya ia akan kehilangan waktu bermain selama satu hari. Jangan lupa untuk membahas bentuk konsekuensi ini dengan anak, agar ia paham.

8. Bersikaplah konsisten

Ketika Anda sudah menetapkan konsekuensi maka bersikaplah konsisten. Lakukan bentuk konsekuensi yang disepakati setiap kali anak tidak menurut. Jangan menyerah apabila anak sudah mulai menangis dan merajuk, lalu Anda membatalkan konsekuensi tersebut. Ingatlah, mengajarkan konsekuensi dangat penting bagi pembentukan karakter anak, agar ia mengenal apa arti tanggung jawab dan apa saja kewajiban yang harus dipenuhinya, juga menjadi cara mengajarkan disiplin kepada anak.

9. Cari tahu kemauan anak

Mungkin segala cara sudah Anda lakukan tetapi anak masih saja membantah perkataan Anda sebagai orang tuanya. Dalam kasus seperti ini, ada baiknya jika Anda mencoba mencari tahu apa sebenarnya kemauan si kecil. Bisa saja ia memiliki pikiran sendiri tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Tanyakan alasannya mengapa ia berulang kali membantah perkataan Anda, dan apa yang menurutnya harus dia lakukan. Setelah berhasil mengetahuinya, Anda akan lebih mudah untuk memikirkan cara mengatasi anak yang suka membantah tersebut. Mengetahui kemauan anak juga dapat menjadi cara membuat anak lebih terbuka kepada orang tua.

10. Berikan perhatian yang lebih kepada anak

Ada kalanya anak membantah karena ia menginginkan perhatian dari orang tuanya. Ketika orang tua hanya bisa menyuruh dan memerintah namun  tidak pernah menaruh perhatian kepada anak, ia akan mencari segala cara untuk mendapatkan perhatian tersebut. Jika dengan cara membantah ia mendapatkannya, maka itulah hal yang akan sering ia lakukan.

11. Introspeksi diri

Terkadang anak – anak melakukan semuanya dengan meniru, dan siapa lagi yang ditirunya jika bukan orang terdekatnya yaitu orang tua. Cobalah untuk mengintrospeksi diri, apakah memang Anda kerap menunjukkan perilaku yang akan ditiru anak tersebut. Contohnya, sering membantah orang tua, suami, atau istri atau anak sering melihat orang tuanya bertengkar sehingga kehilangan rasa hormat yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak kepada orang tuanya. Jika menemukan hal yang perlu diperbaiki, maka sebaiknya cobalah untuk memperbaikinya sedikit demi sedikit agar dapat memberikan contoh yang baik kepada anak. Mengajari introspeksi kepada anak adalah juga merupakan cara mudah mendidik anak untuk meminta maaf.

12. Berikan Pilihan

Jika anak terus membantah, Anda bisa mencoba untuk membuatnya memilih. Berikan pilihan yang sekiranya tidak disukai anak. Misalnya, ia menolak untuk mandi, maka Anda bisa memberinya pilihan untuk mandi atau mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tekankan kepada anak untuk memilih salah satu dan ia tidak bisa bernegosiasi dengan pilihan tersebut. Katakan kalau ia tidak mau mandi, maka waktu mandinya harus digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bila anak masih tidak mau memilih, maka itulah waktunya untuk membarikan konsekuensi kepada anak.


13. Hindari kekerasan

Banyak orang tua yang ketika sudah sulit menahan emosi maka mereka memberikan hukuman fisik kepada anak. Sebaiknya hal ini dihindari sama sekali. Memberi hukuman fisik hanya akan menyakiti hati dan fisik anak, namun tidak akan menanamkan kepada anak pengertian mengenai mengapa ada peraturan yang ditetapkan orang tua untuknya.

14. Tetaplah mendoakan anak

Anda bisa mencoba semua cara untuk membuat anak tidak lagi membantah, namun juga jangan melupakan kekuatan doa. Mengiringi usaha dengan doa yang khusyuk kepada Tuhan akan membuat peluang membentuk karakter anak akan berhasil dengan baik menjadi semakin besar. Berdoalah semoga Anda dan pasangan bisa membombing serta mengasuh anak dengan baik dan benar sampai ia dewasa dan bisa mandiri dengan kehidupannya sendiri kelak. Rajin berdoa juga akan memberi Anda semangat di kala diri sedang merasa lelah dan putus asa.

Masa ketika anak suka membantah

Ketika balita, anak masih kental dengan sikap egois dan merasa bahwa dunia hanya berputar di sekelilingnya saja dan semua hal harus terjadi di bawah kendalinya. Membantah adalah bagian dari dunia kecilnya. Anak balita membantah untuk menunjukkan bahwa dirinya semakin mandiri dan bisa membuat keputusan sendiri. Ia membantah untuk mengendalikan segala hal sesuai keinginannya. Ketika beranjak besar dan bersekolah, ia mulai belajar bahwa tidak semua hal ternyata bisa ia atur seenaknya. Ia mulai harus mempertimbangkan keberadaan orang lain yang mungkin saja akan kecewa jika ia bersikap buruk. Pada tahap ini anak sebenarnya mulai mengembangkan pengertian dan kesadaran akan lingkungannya, bahwa ia tidak bisa lagi bersikap egois. Diperlukan pengertian orang tua ketika anak sedang mengalami fase ini agar tidak memaksakan kehendak kepada anak, yang malah akan membuatnya semakin melawan dan memberontak.

Hal yang Perlu Diwaspadai

Pada umumnya fase anak yang senang membantah akan terlewati dengan sendirinya, jadi dengan usaha yang tepat orang tua pasti akan dapat mengatasi masalah tersebut. Orang tua haruslah dapat mengetahui cara mengenali karakter anak dengan baik agar dapat mengetahui bagaimana cara terbaik untuk berbicara kepada anak. Akan tetapi memang ada yang perlu diwaspadai jika anak terus saja bersikap membangkang setiap waktu, padahal Anda sudah mencoba segala cara dan pendekatan untuk mengurangi sifatnya tersebut. Bisa jadi itu merupakan pertandah bahwa ad yang salah dengan perkembangan emosional anak. Mngkin Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog atau ahli tumbuh kembang anak jika hal ini terjadi.

Diatas semua itu, yang paling baik yang bisa diharapkan orang tua adalah tercapainya keseimbangan dalam perkembangan emosional anak. Anak yang selalu saja membantah tanpa ada perubahan perilaku atau anak yang terlalu menurut sampai tidak mempunyai inisiatif sendiri pun bukanlah suatu pencapaian yang baik. Paling bagus yang bisa dicapai dari perkembangan emosi anak apabila anak bisa mengutarakan pendapatnya sendiri tetapi tetap dapat menerima saran dari orang tua untuk kebaikannya sendiri. Pahamilah bahwa semua ini adalah suatu proses yang harus dilalui dalam pertumbuhan seorang anak, maka Anda akan dapat melewati masa ini dengan tenang.

Sponsors Link
, , , , , , ,
Post Date: Sunday 19th, February 2017 / 07:42 Oleh :
Kategori : Parenting