Sponsors Link

20 Cara Efektif Mengatasi Trauma pada Anak Balita dan Remaja

Sponsors Link

Terkadang dalam kehidupan ada hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi pada anak-anak kita, seperti kekerasan, pelecehan seksual, atau lainnya. Keadaan seperti ini di dalam ilmu kesehatan, termasuk dalam gangguan mental, atau yang biasa kita sebut dengan trauma. Berdasarkan dampak yang muncul, trauma dapat dibagi menjadi dua yaitu, trauma fisik dan trauma mental.

ads

Trauma fisik adalah sebuah trauma yang timbul akibat adanya luka fisik pada anak misalnya seperti pukulan, serangan dari orang lain. Sedangkan trauma mental adalah trauma yang disebabkan oleh suatu peristiwa atau kejadian, yang dapat melukai perasaan atau batin. Seperti misalnya sering mendapatkan cacian, dibanding-bandingkan dengan orang lain, diberikan julukan yang memalukan, diskriminasi, kekeran seksual / pemerkosaan, perceraian dan lainnya.

Trauma memang terjadi pada beberapa orang, dan hal ini sangat berbahaya pada masa depan mereka. Bagaimana jika hal itu terjadi pada anak-anak ?? tentu hal ini akan sangat berbahaya bagi masa depan mereka. Beberapa anak akan mengalami phobia atau trauma dalam hidupnya. Nah pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara mengatasi trauma pada anak-anak. Sebelum kita melanjutkan pembahasan ini lebih dalam, mari kita pelajari dulu definisi Trauma dan Phobia.

Trauma

Menurut Stamm (1999), stres traumatik merupakan suatu reaksi yang alamiah terhadap peristiwa yang mengandung kekerasan (seperti kekerasan kelompok, pemerkosaan, kecelakaan, dan bencana alam) atau kondisi dalam kehidupan yang mengerikan (seperti kemiskinan, deprivasi, dll). Kondisi tersebut disebut juga dengan stres pasca traumatik (atau Post Traumatic Stress Disorder/ PTSD)

(Cerney, dalam Pickett, 1998), Kata trauma digunakan untuk menggambarkan kejadian atau situasi yang dialami oleh korban. Kejadian atau pengalaman traumatik akan dihayati secara berbeda-beda antara individu yang satu dengan lainnya, sehingga setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda pula pada saat menghadapi kejadian yang traumatik.

 Jika kita simpulkan trauma adalah sebuah rasa takut yang besar akan suatu kondisi atau keadaan yang disebabkan adanya peristiwa traumatis dimasa lampau. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengatasi trauma, diantaranya yaitu :

  • Mencari asal penyebab trauma.
  • Meyakinkan pada diri kita sendiri/korban jika itu adalah bagian dari masa lalu.
  • Meyakinkan pada diri kita sendiri/korban jika kejadian itu tidak akan terulang kembali dimasa mendatang.
  • Memberikan pengertian bahwa harus bisa menerima kenyataan yang terjadi kepada diri kita sendiri/korban.
  • Meyakinkan pada diri sendiri/korban , jika kita harus berani untuk maju dan menghapus kejadian tersebut.
  • Memberikan sugesti untuk tetap tenang dan tegar.

Phobia

Ross (1937) menyebutkan bahwa fobia adalah rasa takut yang khas yang disadari oleh penderita sebagai suatu hal yang tidak masuk akal, tetapi tidak dapat mengatasinya.

Menurut Errera (1962) mengungkapkan bahwa fobia adalah rasa takut yang selalu ada terhadap suatu benda atau pendapat yang dalam keadaan biasa tidak menimbulkan rasa takut. Dalam Wikipedia disebutkan, fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena.

Dengan demikian dapat kita simpulkan, bahwa phobia adalah suatu situasi ketika seseorang bertindak secara irasional ketika merasa takut akan sesuatu. Pada umumnya, phobia adalah rasa takut pada suatu hal, suatu benda, atau keadaan tertentu jika bertemu dengan satu objek yang dia takuti.

Beberapa cara untuk mengatasi phobia, yaitu :

  • Cobalah untuk mengajak diri kita untuk berpikir secara rasional atau logis.
  • Cobalah untuk mencari alasan, mengapa kita bisa takut dengan hal tersebut.
  • Cobalah mencari cara untuk meyakinkan diri bahwa hal tersebut tidak beralasan.
  • Tetap berpikir dengan tenang dan percaya diri.

Nah, sekarang tahu kan apa berbedaan antara trauma dan phobia. Dalam proses penyembuhannya, phobia termasuk lebih mudah daripada penyembuhan gangguan trauma. Trauma adalah sebuah gangguan mental yang sangat mengganggu dalam kegiatan sehari-hari. Pernahkah kita berpikir, bagaimana jika sebuah gangguan trauma terjadi pada anak-anak?? Tentu hal ini akan sangat mengganggu anak dalam melakukan aktifitasnya. Sebagai orang tua, kita harus tahu bagaimana cara mengatasi trauma pada anak, dan sebelum mengatasi gangguan tersebut kita juga harus mencari akar penyebab atau akar permasalahan yang terjadi sebelumnya.

Sebelum kita mencari penyebab terjadinya trauma pada anak, kita juga harus tahu apakah yang terjadi pada anak adalah murni sebuah gangguan trauma. Oleh karena itu, orangtua harus mengenali gejala-gejala adanya gangguan trauma pada anak.

Gejala-Gejala Terjadinya Trauma Pada Anak

  • Anak menunjukkan sebuah perubahan tidak biasa ketika mengendalikan emosinya, seperti ada yang di rahasiakan dari anak, ketika marah seakan emosinya meledak-ledak dan orang tua akan sulit untuk dihibur;
  • Anak mengalami gangguan tidur setiap malam, ketika tidur selalu mimpi buruk dan tidak mau berpisah dari orang tuanya.
  • Bertingkah seperti anak dibawah usianya, seperti menirukan bayi, bermain seperti seorang bayi bahkan berbicara seperti seorang bayi.
  • Meninggalkan aktivitas yang biasanya dia sukai, malas untuk bermain dengan teman dan bahkan tidak mau bertemu dengan temannya.
  • Merasa ragu untuk berbicara kepada orang tua/ mulai ragu untuk menceritakan sesuatu pada orang tua.
  • Anak sering terlihat menghindar, melamun dan terlihat pikirannya kosong.
  • Anak sering mengingat-ingat atau sering menceritakan kejadian yang menyedihkan dalam hidupnya.
  • Anak sering mengeluhkan rasa sakit perut, mual dan pusing. ( tidak ada penyakit secara medis )

Sebagai orangtua, kita harus peka terhadap setiap perubahan yang terjadi pada anak kita, langkah yang pertama adalah dengan mengenali gejala-gejala yang muncul pada anak kita. Kedua kita harus memastikan dengan benar, apakah yang terjadi pada anak kita adalah sebuah trauma. Ada beberapa teknik yang bisa orangtua lakukan ketika anak mengalami trauma, berikut penjelasannya.

Teknik mengatasi trauma pada anak usia 3-12 tahun

Teknik Pertama

  • Pertama, tanyakan kepada anak tentang tokoh favoritnya, tokoh kartun misalnya. Disini orangtua bisa bertanya pada anak, kenapa dia menyukai tokoh tersebut. Setelah itu Anda juga bisa menceritakan kehebatan dari tokoh tersebut. Misalnya saja Spiderman, ceritakan pada anak, jika Spiderman adalah sosok manusia yang hebat, kuat, jujur, suka menolong, pantang menyerah dan pemberani. Dengan cara ini, Anda dapat menstimulasi pikiran anak, melalui alam bawah sadarnya.
  • Setelah cara yang pertama, Anda bisa melanjutkan ke cara yang kedua dengan bertanya pada anak, apakah dia juga ingin sehebat dan pemberani seperti Spiderman. Lakukan pancingan ini beberapa kali hingga anak mau menjawab pertanyaan Anda. Karena, jika dia mulai mau untuk menjawab pertanyaan Anda, ini mengartikan bahwa dia mau untuk membuka dirinya.. Berikan anak sugesti dengan baik dan lembut, ajak dia untuk masuk kedalam dunia yang asik dan seru.
  • Perhatikan kata-kata dalam memberikan sugesti pada anak. Sugesti yang diberikan harus sesuai dengan bahasa anak, berikan pengertian yang jelas agar anak dapat mengerti apa yang Anda sampaikan. Lakukan hal ini berulang-ulang. Berikan pujian pada anak, agar dia merasa dihargai, disayangi. Cium dan peluklah anak, agar dia merasa bahwa Anda selalu ada untuknya. Lakukan ini berulang-ulang hingga anak mau membuka diri pada orang tua. Dengan cara tersebut, maka akan memudahkan orangtua untuk menemukan penyebab terjadinya trauma pada anak, dan dengan begitu akan jauh lebih mudah bagi orangtua dalam menyelesaikan atau mengobati gangguan trauma tersebut.
Sponsors Link

Teknik kedua

Cara kedua, bisa menggunakan teknik Emotional Freedom Technique atau yang biasa disebut teknik EFT. Dengan teknik ini, orangtua bisa mengajak anak untuk memberikan sugesti pada dirinya sendiri. Ajak anak untuk mengatakan apa yang Anda katakan seperti, aku adalah anak hebat, aku adalah anak yang pintar dan aku akan jauh lebih baik dari hari ini. Dengan cara tersebut, anak diharapkan akan lebih ter-sugesti dan bisa berpikir lebih baik dari sebelumnya. Dengan begitu, anak akan merasa lebih hebat dan pemberani.

Teknik Ketiga

Cara ketiga dengan memberikan sugesti positif pada anak. Berikan sugesti ketika anak akan tidur, berikan kata-kata positif dan dengan kalimat yang jelas atau mudah dimengerti anak. Hal ini dilakukan agar anak dapat ter-sugesti dengan baik, seperti misalnya memberikan sugesti “Aku adalah laki-laki yang hebat, aku adalah anak pemberani dan suka menolong teman seperti Spiderman.“

Ketiga cara ini dapat dilakukan untuk menstimulasi mental anak agar lebih berani. Orangtua dapat menggunakan cara tersebut dengan cara berselang seling, dengan begitu anak juga tidak akan bosan menerima sugesti yang diberikan. Berikan sugesti dengan cara yang baik, lembut dan dengan kalimat yang jelas agar anak memahami apa yang orangtua katakan.

Jika usia anak sudah lebih dari 12 tahun maka orangtua dapat memberikan perhatian lebih pada anak. Berikan cara yang lebih lembut. Karena jika anak sudah memasuki usia remaja, maka sugesti saja tidak akan cukup untuk membuatnya lebih terbuka pada orang tua.

Cara Menghadapi Anak Trauma Diatas 12 Tahun

1. Mengenali

Orangtua harus mengenali gejala trauma pada anak. Orangtua dapat melakukan sebuah pengamatan sederhana pada perubahan dan perilaku yang terlihat nyata/jelas, khususnya pada anak yang menutup diri. Baca : Cara Mengenali Karakter Anak – Pentingnya Pendidikan Karakter Untuk Anak

2. Menerima

Apabila sudah yakin, jika anak mengalami sebuah perubahan tingkah laku maka orangtua harus menerima keadaan yang terjadi pada anak. Namun jangan berbohong pada anak, jika Anda tahu apa yang mereka sembunyikan. Baca : Cara Jitu Mengatasi Anak yang Suka Berbohong

3. Selalu ada untuk Anak

Orangtua harus mampu untuk meyakinkan anak, jika orangtua akan selalu ada untuknya dan selalu disampingnya. Berikan perhatian dan kasih sayang yang lebih pada anak, hal ini akan mensugesti anak bahwa dia tidaklah sendirian. Baca : Manfaat Makan Bersama Keluarga – Manfaat Liburan Untuk Anak

4. Dengarkan Anak

Segala masalah akan terselesaikan dengan adanya saling pengertian. Pengertian akan kita dapatkan, ketika kita mau mendengarkan ataau saling mendengarkan. Jangan berikan celaan ketika anak sedang berusaha menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Jangan terburu-buru memberikan komentar pada anak, hal ini akan membuat anak takut untuk mengatakan yang sebenarnya.

5. Berikan Semangat

Hal yang harus orangtua lakukan ketika anak menghadapi sebuah trauma, adalah memberikan dia semangat yang lebih. Berikan sugesti yang dapat membuat diri anak semakin bersemangat dalam menyelesaikan masalahnya, dengan demikian anak akan merasa memiliki dukungaan dari orang-orang yang mereka sayangi dan menyayangi mereka. Baca : Efek Negatif Sering Menakut-nakuti Balita

6. Minta Pertolongan Para Ahli

Trauma pada anak adalah sebuah masalah yang harus segera diselesaikan. Berikan anak kesempatan untuk menerima pengobatan secara psikis, bawalah anak menemui psikolog. Membawa anak ke psikolog bukanlah sebuah hal yang memalukan, hal ini harus dilakukan guna kebaikan si anak itu sendiri. Langkah ini memang harus orangtua tempuh demi mencegah terjadinya kerusakan mental di masa mendatang. Baca : Ciri-Ciri Anak Mengalami Keterbelakangan Mental

7. Bentuklah Harga Diri Anak

Berikan anak pengertian tentang mana yang baik dan mana yang tidak baik, agar anak dapat membedakan mana yang seharusnya dia pilih. Berikan anak keprcayaan dalam menentukan pilihannya, hal ini akan membantu anak dalam membentuk harga diri yang baik untuk masa depannya.

8. Biarkan Anak Bersosialisasi

Jika anak mengalami gangguan trauma, maka hal yang orangtua harus lakukan adalah dengan tetap membiarkan dia menjalani harinya seperti biasa. Biarkan anak bermain seperti biasa, biarkan dia menemui temannya seperti biasanya. Ajak anak menemui banyak orang seperti misalnya ke taman, pergi ke mall atau taman rekreasi lainnya. Dengan demikian, orangtua akan membangun rasa sosialisasi pada diri anak secara alami. Hal ini sangat penting dilakukan orang tua, agar anak mereka mampu berbaur dengan orang lain atau orang asing. Baca : Pentingnya Bermain Untuk Pertumbuhan Anak

9. Berikan Kegiatan Yang Positif

Jika anak lebih memilih diam dan bungkam terhadap apa yang terjadi, maka hal ini perlu orangtua khawatirkan lebih dari sebelumnya. Agar anak mau bercerita atau kembali ceria seperti sebelumnya, orangtua harus pintar dalam memberikan dia kegiatan yang positif. Berikan kegiatan yang dapat mengembalikan semangatnya seperti mengikuti acara perlombaan, mengikuti kegiatan outbond atau dengan mengikuti les musik dan menari. Tapi bunda, kegiatan positif juga dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk melakukan olahraga, karena olahraga akan memberikan banyak manfaat bagi kesehaatan fisik dan mental anak. Baca : Manfaat olahraga untuk anak

ads

10. Ajak Anak Untuk Menghadapi Masalahnya

Lari dari sebuah masalah adalah hal yang tidak baik bagi anak. Berikan anak latihan khusus untuk menghadapi masalah yang membuatnya trauma. Dampingi anak ketika menghadapi penyebab traumanya, jangan membuat anak menjadi seorang pengecut dan lari dari masalahnya. Baca : Cara Mengatasi Rasa Takut pada Anak – Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

11. Jalani Hari Dengan Normal

Katakan pada anak, jika apa yang terjadi kemarin adalah bagian dari pengalamanya dimasa lalu. Ajak anak untuk kembali beraktivitas seperti biasanya, dan berilah sugesti positif agar anak mau untuk kembali menjalani harinya seperti sedia kala.

12. Jangan Membiarkan Anak Sendiri

Umumnya, dengan rasa trauma yang mendalam, anak cenderung menutup diri, takut berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Cobalah untuk menyelami perasaan anak, perlahan ajak anak untuk membuka diri dengan mengajaknya bermain, bercakap-cakap, bercerita, sehingga anak melupakan rasa takutnya. Baca : Cara Menenangkan Bayi yang Menangis

13. Jangan Mengisolasi Anak

Anak yang mengalami trauma bukan untuk dikucilkan atau diasingkan dari lingkungannya. Namun ia butuh perhatian yang lebih besar dan dukungan orang sekitarnya untuk bangkit dan menumbuhkan kembali keberaniannya.

14. Biarkan Anak Mengeluarkan Emosinya

Jika anak marah, tidak puas atau menangis, untuk sesaat biarkan saja. Anak sedang meluapkan semua perasaan tak nyaman dalam hatinya. Setelah mereda, rangkul atau peluklah anak untuk membuatnya lebih tenang. Baca : Cara Mengatasi Anak yang Agresif – Cara Mendidik Anak yang Suka Membantah

15. Perhatikan Respon atau Sikap Anak

Dalam kondisi trauma, mungkin saja anak menanggapi segala hal dengan emosi atau rasa marah, rasa tidak puas.  Lihat respon yang di berikan anak, coba untuk menanggapi responnya dengan bijak.

16. Minta Maaf

Untuk sebuah kesalahan ataupun kelalaian sekecil apapun, tidak ada salahnya orang dewasa meminta maaf kepada anak. Dengan demikian, anak dapat belajar memahami, bahwa pada kenyataannya, orang dewasa pun dapat berbuat salah, dan menyesali perbuatannya. Baca : Cara Mudah Mendidik Anak Untuk Minta Maaf – Kesalahan dalam Mendidik Anak Balita – Penyebab Anak Menjadi Keras Kepala

17. Jalin Komunikasi

Cobalah memposisikan diri layaknya anak seusianya, agar anak merasa orangtua seperti temannya, sehingga anak lebih bebas bercerita atau mengutarakan rasa takut, rasa marah atau uneg-unegnya. Dengan begitu orangtua dapat membantu anak keluar dari rasa trauma yang menghantuinya.

18. Berikan Pemahaman atau pengarahan

Apapun yang sudah terjadi tentunya tak bisa ditarik kembali bukan? Walaupun sebenarnya orangtua tidak ada niat sedikitpun untuk menyakiti anak. Untuk itu berikan penjelasan kepada anak, bahwa tak ada manusia yang luput dari sebuah kesalahan di dunia ini, termasuk orangtua.

19. Memberi Pujian

Saat anak berusaha mengutarakan atau mulai mau membuka diri, berikan apresiasi berupa ciuman, pelukan atau pujian untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri dan keberaniannya, sehingga perlahan anak akan kembali ceria dan melupakan rasa traumanya. Baca : Cara Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak – Bahaya Mencium Bayi – Cara Mengajarkan Disiplin Pada Anak

20. Menegurlah dengan Lembut

Dalam suatu kondisi yang tak nyaman, suara keras atau bentakan sedikitpun, kembali meruntuhkan semangat anak, mengembalikan rasa takut atau trauma yang dialaminya. Karena itu orangtua diharapkan lebih dapat memberikan posisi yang spesial untuk anak disaat-saat terburuk anak. Baca : Kata Kata yang Tidak Boleh diucapkan Orangtua kepada Anak

Mengatasi anak yang sedang trauma, memanglah bukan hal yang mudah. Tapi hal ini wajib dilakukan setiap orang tua, agar masa depan anak tidak bermasalah. Berikan perhatian lebih pada anak, berikan sebuah kepercayaan agar dia mau mendekat kepada kita.

Tips Menghindari Trauma Pada Anak

  • Berikan perhatian yang sama paada setiap anak
  • Berikan kepercayaan pada anak
  • Jangan membentak anak dengan nada tinggi (efek pada mental anak yang sering dibentak)
  • Jangan memukul anak
  • Jangan menghukum anak dengan cara yang berbahaya
  • Jangan permalukan anak didepan orang lain / saudaranya ( jika ingin menegur anak, tegurlah dia dihadapan bunda dan ayahnya saja )

Setiap orang tua memiliki tujuan yang sama dalam membesarkan putra putrinya. Pasti seluruh orang tua menginginkan yang terbaik bagi mereka, memberikan apa yang mereka inginkan. Menjaga kesehatan anak juga memerlukan peran aktif orang tua, dengan demikian orang tua diharapkan mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya kepada anak-anak mereka.

Kesehatan pada anak tidak hanya bergantung pada makanan saja, menjaga kesehatan tidak hanya dengan menjaga kebersihan lingkungan anak. Pada dasarnya kesehatan juga dibagi menjadi dua yaitu, kesehatan fisik dan kesehatan mental. Kesehatan fisik bisa bunda perhatikan dengan menjaga pola makan dan sumber makanan yang anak makan. Namun lain halnya dengan kesehatan mental, kesehatan mental memerlukan perhatian khusus, perhatian lebih terhadap anak. Mental pada anak adalah sebuah hal yang penting, karena mental akan mempengaruhi bagaimana anak di masa mendatang.

Berikan mereka perhatian lebih, jadilah teman curhat yang baik untuk mereka. Ajak anak untuk melakukan hal-hal yang positif, guna menumbuhkan rasa berharga pada dirinya. Hal yang positif bisa bunda lakukan dengan mengajaknya berolahraga, karena berolahraga tidak hanya menyehatkan tubuh/fisik anak saja, akan tetapi juga mental anak akan lebih sehat dan kuat ketika menerima suatu keadaan disekitarnya.

Sponsors Link
, , , , , , , , , ,
Post Date: Monday 02nd, January 2017 / 13:28 Oleh :