Sponsors Link

5 Cara Mengenali Karakter Anak dengan Efektif

Sponsors Link

Karakter atau watak adalah sifat bawaan yang diturunkan secara genetik dari orang tua kepada anak. Namun, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan sosial anak, karakter atau watak bisa sedikit berubah karena pengaruh lingkungan eksternal dan pergaulan, meski karakter dasar dalam diri setiap anak tetap akan bertahan selamanya. Karakter ini terkadang bisa membuat orang tua kesulitan untuk memahami apa yang dikerjakan oleh anak sehingga orang tua bingung bagaimana mendidik anak yang tetap sesuai dengan kepribadiannya.

ads

Ketidaktahuan orang tua kerap kali menimbulkan pola asuh yang salak kaprah dalam menangani perilaku anak. Dibutuhkan wawasan yang luas dan pengertian dari orang tua untuk bisa memahami karakteristik anak hingga perlakuan dan pola asuh yang diterapkan orang tua pun tepat dan tidak menimbulkan trauma psikologis pada anak.

Karakteristik Umum Anak

Dalam menerapkan perilaku dan pola asuh yang tepat untuk menangani karakteristik masing-masing anak yang berbeda-beda, orang tua harus memahami ciri-ciri karakteristik umum yang dimiliki oleh anak sejak usia dini. Berikut ini ada beberapa karakteristik umum yang dimiliki oleh anak usia dini:

  1. Unik

Unik adalah sifat dasar dan paling khas yang dimiliki setiap manusia sejak lahir. Setiap anak dilahirkan berbeda dan sudah memiliki keunikan tersendiri. Keunikan inilah yang membuat manusia memiliki perbedaan karakter antara satu dengan yang lain. Karakter ini meliputi sifat bawaan, minat, latar belakang, kapabilitas dan orientasi.

  1. Egosentris

Sifat egosentris ini pun sudah pasti dimiliki oleh setiap anak sejak lahir. Hal ini terbukti dengan sikap anak yang cenderung memperhatikan dan memahami hal apapun di sekitarnya dari sudut pandang kepentingan dirinya saja.

  1. Energik dan Aktif

Saat anak mulai tumbuh dewasa dan mengalami perkembangan kehidupan sosial, anak akan senang melakukan berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi lingkungannya. Anak seolah tak pernah merasa lelah, bosan, dan sulit diminta berhenti beraktivitas kecuali saat mereka tidur.

  1. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Tidak ada anak kecil yang tidak cerewet dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Umumnya, setiap anak pasti selalu penasaran dan ingin tahu hal ini dan itu disekitarnya. Setiap detik mereka selalu ingin tahu hal-hal baru yang belum mereka ketahui.

  1. Haus Petualangan dan Eksploratif

Rasa ingin tahu yang tinggi pada anak biasanya disertai dengan aktivitas menjelajahi atau mengeksplorasi yang tinggi pula. Jiwa petualang pada anak akan timbul untuk lebih mengetahui segala sesuatu di sekitarnya. Anak akan lebih aktif melakukan banyak hal seperti berjalan kesana kemarin, membongkar mainan baru, dan mencorat-coret dinding.

  1. Spontan

Sikap spontan yang ada pada anak adalah sikap asli dan tanpa dibuat-buat atau direkayasa oleh anak. Hal ini terlihat saat anak sedang berbicara, ia akan cenderung ceplas-ceplos dan mengungkapkan apapun yang ada di pikiran dan hati mereka.

  1. Senang Berfantasi

Anak sangat suka dengan hal-hal yang bersifat imajinatif. Saat anak mendengarkan dongeng, mereka akan memiliki daya khayal yang tinggi seolah-olah cerita dongeng itu betul-betul nyata dan ia adalah bagian dari tokoh dalam cerita itu. Anak tidak hanya senang mendengarkan orang lain bercerita, tapi mereka juga senang bercerita pada orang lain disekitarnya.

  1. Gampang Frustasi

Rasa ingin tahu yang sangat tinggi pada anak bila tidak segera dituruti atau didapatkan oleh anak akan membuat anak mudah merasa frustasi. Akibatnya, saat anak merasa frustasi mereka akan mengekspresikannya dengan cara marah, menangis, dan berteriak kesal.

  1. Kurang Pertimbangan

Anak akan cenderung spontan dan kurang mempertimbangkan hal-hal yang mereka lakukan. Anak cenderung tidak berpikir apakah hal yang dilakukannya itu berbahaya atau tidak. Saat mereka bermain dengan benda tajam misalnya, mereka akan cenderung langsung memainkannya tanpa mendengarkan perkataan atau larangan orang tuanya.

  1. Mudah Teralihkan Perhatiannya

Anak memiliki kecenderungan untuk mudah teralihkan perhatiannya atau memiliki daya perhatian yang pendek. Misalnya, saat anak sedang memperhatikan sesuatu yang membosankan, mereka akan segera menghindar dan lanjut memperhatikan hal-hal menarik dan menyenangkan lainnya.

  1. Semangat Belajar Tinggi

Saat anak memiliki keinginan yang menyenangkan dan menarik perhatiannya, biasanya mereka akan terus mencari cara untuk memahami apa yang mereka inginkan. Jika mereka tertarik untuk bisa menguasai satu hal, mereka akan terus mengulanginya berulang kali hingga mereka merasa puas dan bisa.

  1. Minat Bersosialisasi

Seiring makin dewasanya perkembangan anak, mereka akan menunjukkan minat untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Mereka akan melakukan kerja sama atau berhubungan dengan temannya dengan cara yang beragam.

ads

Tips Mengenali dan Memahami Karakter Anak

Mengenali dan memahami karakter anak memang tidak mudah, bahkan cenderung sulit jika orang tua tidak memiliki wawasan ilmu pola asuh yang memadai. Kebanyakan, para orang tua justru bingung dan tak tahu bagaimana menghadapi perilaku anak sehingga akibatnya anak pun menjadi berjarak dan enggan berbagi banyak hal seputar kehidupannya. Saat anak merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi dengan orang tua, itu berarti orang tua belum mampu untuk mendapatkan kepercayaan dan memahami karakter anak itu sendiri. Berikut beberapa cara mengenali karakter anak yang bisa diterapkan oleh orang tua agar lebih bisa memahami karakter anak dengan baik:

  • Menjadi Pendengar yang Baik

Sebagai orang tua, Anda harus mampu untuk menjadi teman bicara dan mendengar yang baik untuk anak. Berikan respon yang diperlukan anak dan bantu anak untuk memecahkan persalahan bila ia sudah tak mampu lagi menyelesaikannya. Banyak orang tua menganggap cerita anak tidaklah penting dan hanya sekilas lalu saja mendengarkan. Padahal, bila anak melihat perlakuan orang tuanya yang seperti itu, anak akan merasa tidak dihargai dan akibatnya ia akan menjauh dari orang tua. Hal inilah yang menjadi cikal bakal orangtua gagal memahami karakter anak karena tiadanya kedekatan batin dan komunikasi yang cukup antara keduanya.

  • Pahami Tipe Emosional Anak

Bila orang tua mampu memahami tipe-tipe emosional anak, orang tua dapat mengendalikan perilaku anak dan memberi pengertian yang baik padanya. Pahami tipe emosional anak dengan baik dan hindari bertindak secara keras dan menggunakan amarah bila anak tampak mulai emosi atau frustasi terhadap dirinya sendiri. Berilah anak pengertian dengan lembut dan selalu cari celah dimana Anda dapat membujuk anak dan menasehatinya untuk mengendalikan emosinya.

  • Interogasi Anak dengan Lembut dan Interaktif

Saat anak melakukan kesalahan atau orang tua melihat ada perilaku yang ganjil pada anaknya, biasanya orang tua cenderung akan buru-buru ingin mengetahui apa yang salah dan mencari fakta dari anak dengan cara menanyakan pada anak namun dengan sikap menginterogasi. Bila orang tua melakukan interogasi dengan cara yang keras, terburu-buru, dan menghakimi, yang terjadi adalah anak justru akan merasa tertekan dan malah berbohong tentang hal yang terjadi sesungguhnya.

Disinilah konsep memahami karakter anak bisa pupus karena orangtua telanjur dicap sebagai sosok yang menakutan bagi anak. Interogasi anak dengan lembut dan sabar, ajaklah ia bicara dengan kalimat yang interaktif sehingga ia merasa lepas dan nyaman menceritakan semuanya pada Anda.

  • Quality Time

Di zaman modern ini, kedekatan anak dan orang tua tak jarang sering terlewatkan karena kesibukan orangtua yang begitu padat sehingga anak jadi jarang memiliki waktu yang berkualitas bersama orang tuanya. Padahal, waktu yang berkualitas adalah cara efektif untuk membuat orang tua mampu memahami karakter anaknya dengan lebih mendalam sekaligus meningkatkan hubungan batin dan komunikasi antara anak dan orang tua. Luangkan waktu lebih banyak dengan anak sambil mengamati karakternya dan buatlah anak merasa bahwa ia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya.

  • Selami Dunia Anak

Untuk bisa menjadi sahabat bagi anak, orang tua harus terlebih dahulu tahu dan paham tentang dunia anak. Cari tahu apa hobi yang disukai anak, mainan kesukannya, film favoritnya, lagu yang sedang sering didengarkan dan hal-hal lain yang bersifat personal. Berkenalanlah dengan teman-teman anak Anda dan anggap mereka sebagai anak Anda juga sehingga anak merasa sangat nyaman ketika ia merasa bahwa orang tuanya sangat peka dan peduli pada temannya. Bila orang tua mampu menyelami dunia anak, anak tentu akan menjadi dirinya sendiri di hadapan orang tua dan itu membuat orang tua mudah untuk mengenali sifat anak dan memahami perilakunya.

Jenis Kepribadian Anak Menurut Ilmu Psikologi

Kesuksesan seorang anak dipengaruhi oleh potensi anak yang tergantung pada keadaan rumah, sekolah dan lingkungannya sehingga penting untuk orang tua dapat menjalin hubungan yang harmonis untuk mewadahi potensi anak agar dapat berkembang. Kuncinya, orang tua harus mengetahui bagaimana cara dalam mendidik dan mengakomodasi perilaku anak sesuai dengan kepribadiannya. Bila orang tua mengetahui karakter anak dengan baik, komunikasi dan interaksi antara anak dan orang tua akan menjadi lebih mudah, efektif dan membantu hubungan yang ideal dan harmonis antara anak dan orang tua dapat tercapai.

Florance Littauer dalam bukunya berjudul Personality Plus for Parents menuliskan, ada empat kepribadian dasar yang dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk mengidentifikasi karakter dan kepribadian anak bagi orangtua yaitu sebagai berikut:

  1. Kepribadian Sanguinis

Moto : “Mari kita bersenang-senang sekarang”

Julukan : Si Tukang Bicara

Anak yang memiliki kepribadian sanguinis adalah anak yang cenderung memiliki energi besar, supel, dan suka bersenang-senang. Anak dengan tipe kepribadian ini suka mencari kasih sayang, dukungan, dan pengakuan dari orang-orang disekitar mereka. Mereka selalu membawa kegembiraan dalam kondisi apapun, suka menjadi pusat perhatian, dan gemar memotivasi orang lain. Mereka biasanya optimis dan hampir selalu menyenangkan. Namun mereka bisa juga tidak teratur, emosional, dan hipersensitif tentang apa kata orang terhadap mereka.

Anak tipe sanguinis senang menjadi sorotan dan menyukai kemajemukan. Mereka memberikan respon yang agresif terhadap sebuah percakapan dan perhatian yang sifatnya pribadi. Bila orang tua meminta anak sanguinis untuk mengerjakan suatu hal, mereka lebih suka untuk dibiarkan menyelesaikan secara kreatif dengan hanya memberikan rambu dan kisi-kisinya saja. Pastikan orang tua tidak memaksakan dan mengintervensi anak, namun ajarkan kedisplinan yang penuh semangat dan positif. Dukunglah anak sanguinis untuk bergabung dalam kegiatan kelompok anak-anak seusianya. Mereka sangat interaktif dan pintar bergaul serta menghidupkan suasana dimanapun mereka berada.

Sponsors Link

  1. Kepribadian Koleris

Motto: “Lakukan saja sekarang”

Julukan : “Si Pelaksana”

Anak yang memiliki latar belakang kepribadian koleris, secara alami berfokus pada sasaran dan tujuan hidup. Hidupnya dicurahkan untuk berprestasi dan selalu mengorganisir setiap tindakannya. Mereka juga menuntut loyalitas dan penghargaan nyata dari lingkungan sekitarnya. Koleris juga selalu berusaha mengendalikan dan mengharapkan pengakuan atas prestasi yang diraihnya. Mereka juga suka menerima tantangan dan menerima hal-hal yang sulit. Disiplin diri dan kemampuan mereka untuk fokus membuat mereka berbakat menjadi pemimpin yang kuat. Namun, efek buruknya adalah tekad kuat mereka membuat mereka sering kecanduan kerja, suka merasa benar sendiri, keras kepala, dan tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Menghadapi anak koleris haruslah dengan pendekatan komunikasi yang dilakukan tanpa melibatkan perasaan atau penghakiman. Anak koleris cenderung tidak peka perasaannya sehingga orangtua sebaiknya tidak mudah tersinggung atau sakit hati bila anak memberikan respon yang keras saat ditegur atau diperintah. Anak koleris memang memegang teguh keadilan, logika, kejujuran dan keterus-terangan. Bila orangtua hendak meminta anak koleris mengerjakan sesuatu, berikan dengan jelas apa maksud dan tujuannya tanpa harus mengatur langkahnya tahap demi tahap. Mereka senang diberi kepercayaan tanpa harus banyak diatur dan diarahkan.

  1. Kepribadian Melankolis

Motto: “Ayo kita kerjakan secara benar”

Julukan: “Si Pemikir”

Anak yang berkepribadian melankolis, cenderung diam, pemikir dan menuntut kesempurnaan. Tak Jarang seringkali mereka kecewa dan frustasi dengan yang tak sesuai harapan mereka. Anak tipe ini memerlukan dukungan dan ketenangan untuk berpikir sebelum mereka berbuat sesuatu. Anak-anak melankolis bekerja dengan penuh kehati-hatian dan terorganisir serta teratur. Anak tipe ini dapat diandalkan untuk menyelesaikan tugas sesuai dealine. Namun kesempurnaan mereka dapat membuat mereka menjadi kritis dan pesimis, karena standar diri mereka yang tinggi.

Dalam menghadapi anak kepribadian melankolis, butuh pendekatan komunikasi untuk menghargai apa yang telah anak lakukan. Bila berhasil melakukan sesuatu, tipe melankolis cederung tidak memiliki jiwa kompetitif dan tidak terlalu tertarik dengan iming-iming hadiah. Bila hendak menyuruh anak melankolis untuk melakukan sesuatu, sampaikan dengan cara yang lembut dan tidak bernada memerintah. Sebaliknya, lakukan dengan cara yang komunikatif sehingga membuat mereka tertantang untuk segera mengerjakannya. Bila tugas yang harus mereka kerjakan tidak selesai, hindari argumen karena kepribadian mereka yang perfeksionis akan membuat mereka menyalahkan diri mereka sendiri. Beri kritikan yang membangun dan bukan kritikan yang tajam.

  1. Kepribadian Plegmatis

Motto: “Untuk apa berdiri kalau bisa dudu”

Julukan: “Si Pengamat”

Anak dengan kepribadian plegmatis adalah anak yang memiliki keseimbangan dan cenderung merasa cukup atas apa yang ia miliki dan ia raih. Mereka merasa tidak harus ikut merubah dunia atau melakukan hal ambisius yang besar. Bagi orang lain, anak plegmatis mungkin terlihat lebih lamban. Ini bukan karena mereka tidak cerdas melainkan justru mereka lebih tahu dari yang lain bahwa hal-hal dalam hidup tak perlu dipersoalkan terlalu berlebihan. Anak plegmatis tidak menyukai tantangan, resiko dan kejutan. Mereka butuh waktu untuk dapat menyesuaikan diri terhadap sebuah perubahan. Walaupun mereka cenderung menghindari situasi sulit yang menekan, namun mereka tetap dapat menyelesaikan tugas dengan baik meski di bawah tekanan sekalipun. Sayangnya, mereka kurang disiplin dan motivasi sehingga membuat mereka suka menunda-nunda pekerjaan jika tidak dipimpin oleh pemimpin yang kuat dan bisa mempengaruhi mereka.

Anak plegmatis cenderung menarik diri dari pergaulan, namun ia suka bila berada di dekat orang banyak. Mereka punya banyak akal dan suka mengucapkan sesuatu yang tepat disaat yang tepat. Pemikiran mereka mantap dan stabil. Dalam perdebatan, plegmatis adalah sosok yang disukai karena mereka sangat berorientasi pada ketentraman dan suka menciptakan rasa aman sehingga cocok sebagai penengah atau negosiator. Menghadapi anak dengan karakter plegmatis, pendekatan komunikasi yang diperlukan harus penuh persahabatan dan tanpa ancaman. Hal ini karena anak dengan tipe ini cenderung bersikap sebagai seorang pendengar dan pengamat yang baik. Sebagai seorang penengah, mereka akan mendamaikan orang-orang yang berselisih dan mereka akan membantu mencarikan solusinya. Bila orang tua hendak meminta anak mengerjakan sesuatu, berikan dengan pembagian tugas yang jelas berdasarkan tingkatan agar mereka mudah melihat keberhasilannya. Jangan lupa untuk memberikan penghargaan kepada anak karena anak tipe plegmatis suka dan nyaman dengan apreasiasi yang diberikan kepadanya.

Demikian ulasan mengenai cara mengenali karakter anak serta penjelasan tentang-tentang jenis dan tipe kepribadian anak. Jadilah orangtua yang memiliki wawasan luas sehingga dapat menerapkan pola asuh yang baik dan tepat bagi anak. Selamat belajar.

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , , , , , , , , , ,
Post Date: Thursday 19th, January 2017 / 14:43 Oleh :
Kategori : Karakter