Sponsors Link

18 Cara Mengajarkan Disiplin pada Anak yang Benar

Sponsors Link

Dalam membesarkan anak banyak aspek yang menentukan perkembangan karakternya kelak. Setiap orang tua tentunya ingin agar anaknya berkembang menjadi seorang yang berkarakter kuat serta positif sehingga bisa menjadi orang yang mandiri dan berjaya dalam masyarakat. Untuk membentuk karakter tersebut, salah satu aspek yang perlu diperkenalkan kepada anak adalah disiplin. Hal ini perlu diajarkan kepada anak sejak dini, sebab disiplin adalah salah satu faktor yang menentukan kematangan pribadi seseorang.

ads

Dengan mengenal dan mempelajari tentang disiplin, anak akan dapat mengenali mana masalah yang merupakan hal benar atau yang mana merupakan hal yang salah. Selain itu, anak juga akan belajar bagaimana cara menghargai dan mengormati orang lain serta tahu pentingnya mengikuti aturan yang telah ditetapkan orang tua. Sehingga kelak anak akan belajar untuk membuat keputusan sendiri dengan berbagai pertimbangannya sendiri, tentu saja dengan nilai-nilai baik yang telah diajarkan oleh orang tua sejak dini.

Manfaat Mengajarkan Disiplin Pada Anak

Pengajaran yang tepat dari orang tua mengenai disiplin kepada anak akan memberikan banyak manfaat yang dapat menyumbangkan poin positif bagi perkembangan karakter anak sejak usia dini. Berikut manfaat dari cara mengajarkan disiplin pada anak sejak dini yaitu:

  1. Menumbuhkan Kepekaan pada Anak – Dengan penanaman disiplin yang tepat, anak akan dapat tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap kebutuhan orang lain dan juga memiliki kehalusan hati. Ia juga akan mudah mempercayai orang lain, terbuka dan mudah mengungkapkan perasaannya, termasuk kepada orang tuanya. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyelami perasaan orang lain dan mempunyai rasa empati.
  2. Membentuk Kepedulian – Anak menjadi pribadi yang peduli kepada orang lain, mampu memikul tanggung jawab dan mencari penyelesaian masalahnya sendiri. Selain itu anak juga akan menjadi orang yang mudah mempelajari sesuatu hal yang baru dan memiliki harga diri tinggi.
  3. Mengajarkan Keteraturan – Pola hidup yang teratur akan terbentuk jika anak diajari disiplin sejak dini. Dengan pola yang teratur maka anak akan memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri serta mengelola waktunya untuk berbagai kegiatan dengan baik.
  4. Anak Menjadi Tenang – Mengajarkan disiplin kepada anak sekaligus mengajarkannya cara mengendalikan diri dengan baik. Anak akan mudah mengontrol perilakunya dan mudah pula untuk bersikap tenang jika diperlukan, karena ia sudah terbiasa untuk bersikap sesuai tempat dan waktunya yang patut.
  5. Membuat Anak Percaya Diri – Anak yang diajarkan disiplin dengan baik bisa saja memiliki kepercayaan diri yang baik pula, karena sebagai bagian dari pengajaran disiplin adalah mengajarkan anak untuk melakukan segala sesuatu hal sendiri. Misalnya, mengajarkan anak untuk disiplin dengan mandi, makan, menyikat gigi, membereskan barang-barang serta kamarnya sendiri, dan berbagai hal lainnya.

Waktu yang Tepat Untuk Belajar Disiplin

Bila orang tua mengira bahwa disiplin baru bisa diajarkan kepada anak ketika ia memasuki usia sekolah, hal itu sebenarnya kurang tepat. Mengajarkan disiplin kepada anak bisa dimulai sejak sangat dini, bahkan sejak anak lahir. Tentu saja mengajarkan disiplin kepada anak akan disesuaikan dengan tahap perkembangan usia anak agar mereka mudah menerima apa yang diajarkan orang tua. Ada beberapa tahap dalam usia anak yang perlu penyesuaian dalam proses pengajaran disiplin oleh orang tua, yaitu:

  • Usia 0-7 bulan, Pada rentang usia ini, anak biasanya belum mempunyai pola kegiatan yang jelas sehari-harinya.  Kebanyakan bayi belum mengetahui perbedaan antara siang dan malam, dan hal ini sering kali menyulitkan para orang tua karena anak kerap terbangun saat malam hari dan bermain serta justru tertidur pada siang harinya. Orang tua dapat membiasakan anak untuk memiliki jadwal tetap, misalnya membiasakan bayi untuk tidur pada jam yang sama setiap malam, mengatur waktu makan, minum susu atau ASI, dan bermain sebagai upaya untuk mengajarkan disiplin pada anak di usia ini.
  • Usia 7-12 bulan, Memasuki rentang usia tujuh sampai dua belas bulan atau satu tahun, anak akan mengalami perkembangan fisik yang luar biasa dan juga akan mempengaruhi gerak geriknya. Anak seusia ini sedang senang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya namun masih belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan memahami mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh.
  • Usia 12-18 bulan, Anak dalam usia ini biasanya memiliki kecenderungan baru untuk berteriak dan merengek, bahkan ketika sedang di tempat umum. Untuk menanamkan disiplin mengenai perilaku yang diharapkan ketika berada di depan umum, orang tua bisa mengkomunikasikan kepada anak sebelum keluar rumah dan dalam berbagai kesempatan. Misalnya, ketika berada di depan umum anak harus dapat berbicara perlahan dan memperhatikan nada suaranya, serta tidak diijinkan untuk berlari di dalam ruangan mal atau rumah orang lain. Mungkin saja anak tidak akan langsung menurut karena pada tahap ini anak belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri. Akan tetapi tidak ada salahnya untuk terus mengulangi ajaran tersebut sampai tertanam di pikiran anak.
  • Usia 18-24 bulan, Pada tahapan usia ini, mulai ada keinginan anak untuk menunjukkan kemandiriannya, namun keterbatasan mereka dalam mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan kerap kali membuatnya frustasi dan mengamuk. Bahkan ada sebagian anak yang melampiaskan kekesalannya dengan menggunakan fisik seperti memukul dan menendang ataupun menggigit. Orang tua perlu mengkomunikasikan kepada anak bahwa perilaku mereka yang seperti itu amat sangat tidak pantas karena bisa menyakiti orang lain. Saat ini juga bisa diperkenalkan  konsep ‘time out’ selama beberapa menit agar anak dapat menenangkan diri setelah mengalami luapan emosi.

Cara Mengajarkan Disiplin Ketika Anak Melanggar Aturan

Pada anak yang berusia diatas dua tahun, ada beberapa tahapan atau aspek yang perlu diperhatikan ketika mengajarkan disiplin kepada anak. Beberapa tahapan tersebut berguna untuk membentuk kepribadian anak agar tujuan pengajaran disiplin dapat tercapai.

1. Bersikap Tenang

Ketika anak sedang melakukan kesalahan, sangat penting bagi orang tua untuk tetap tenang dan mengendalikan sikap. Katakan dengan tenang bahwa Anda ingin anak berhenti melakukan kegiatan tersebut, dan jelaskan kepada mereka alasannya. Jangan terpancing untuk berteriak atau meninggikan suara ketika anak bersikap kurang sopan kepada Anda. Tetap jaga nada suara dan intonasi dengan normal namun terkesan tegas sehingga anak mengerti bahwa Anda serius. Jika sedang berada di tempat umum, carilah tempat yang sepi agar Anda dan anak dapat berbicara tenang dan tidak banyak pengalih perhatian. Anak juga tidak akan merasa malu karena dimarahi di depan orang banyak.

ads
2. Tetapkan Konsekuensinya

Apabila anak terus bersikap tidak patut, informasikan kepada anak mengenai konsekuensi yang akan mereka terima jika tidak mau mematuhi aturan yang berlaku. Pastikan juga agar anak menjalani konsekuensi yang Anda tetapkan agar ia mengerti bahwa ada hubungan antara perilakunya yang kurang baik dengan akibat yang harus ia terima karena tingkah lakunya tersebut.

3. Konsisten

Sekali Anda menetapkan konsekuensi yang harus didapatkan anak dari tingkah lakunya yang kurang baik tersebut, maka Anda harus menjalankannya dengan benar dan tegas. Jangan hanya membuat ancaman kosong, karena kelak anak akan belajar bahwa kelemahan Anda adalah tidak bersikap konsisten terhadap perilaku buruknya dan tidak akan menganggap apa yang Anda ajarkan sebagai sesuatu yang serius. Pastikan anak mendapatkan konsekuensi yang setara dengan kesalahannya.

4. Jelaskan Kepada Anak

Setelah anak mendapatkan konsekuensi dari perilaku buruknya, pastikan bahwa anak mengerti mengapa ia dihukum. Tanyakan kepada anak mengapa ia mendapaatkan hukuman tersebut dan apakah ia mengerti bahwa perilakunya itu salah. Setelah itu peluk dan cium anak agar ia tidak merasa bahwa Anda membencinya dan katakan bahwa hukuman itu diberikan agar ia menyadari kesalahannya.

5. Samakan pandangan dengan anggota keluarga lainnya

Seringkali kedua orang tua berbeda pandangan tentang perilaku apa yang pantas dan tidak bagi seorang anak. Jika memungkinkan, semua orang dewasa yang tinggal di dalam satu rumah haruslah sepakat mengenai batasan yang harus dipatuhi sang anak, agar ia menyadari bahwa peraturan yang ada di rumah adalah sesuatu yang serius. Jangan lupa untuk memberikan informasi kepada pengasuhnya ketika Anda sedang tidak berada di rumah mengenai apa yang diijinkan dan yang tidak.

Cara Mengajarkan Disiplin dengan Pemberian Peraturan

Anak-anak yang belum bisa mengendalikan perilakunya sendiri akan menjadi tidak terkendali apabila dibiarkan tanpa peraturan yang jelas sehari- harinya. Perlunya pemberian aturan di rumah yang jelas agar anak bisa mulai mengatur dirinya sendiri.

1. Beri tahu anak mengenai peraturannya

Jelaskan kepada anak bahwa peraturan yang dibuat orang tua berguna demi kebaikan diri mereka sendiri. Beri tahu anak peraturan apa saja yang ditetapkan untuk mereka patuhi dan apa saja konsekuensinya jika mereka tidak menuruti aturan tersebut. Libatkan anak dalam penetapan peraturan, sehingga terjalin komunikasi dua arah yang sangat berguna untuk membuat anak merasa memiliki hak sebagai anggota keluarga. Bila perlu, tuliskan peraturan tersebut di tempat yang mudah terlihat oleh anak yang sudah bisa membaca.

2. Beri anak tanggung jawab di rumah

Sesuaikan pemberian tanggung jawab dengan usia anak. Anda tentu tidak bisa menyuruh batita untuk mencuci piring, misalnya. Mereka baru bisa memahami tugas sampai sejauh membereskan mainannya atau menaruh benda tertentu di tempatnya. Tentu beda lagi situasinya pada anak yang sudah lebih besar. Pastikan anak sudah bisa melakukan tugas yang diberikan kepadanya sesuai usia dan kemampuan motoriknya.

3. Berikan motivasi pada anak

Menunjukkan penghargaan atas usaha mereka untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya masing-asing merupakan hal yang sangat baik. Hal itu akan mendorong anak untuk terus melakukan perbuatan baik. Tunjukkan bahwa Anda menghargai upaya mereka untuk menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan pujian dan belaian sayang, dan juga ucapan terima kasih karena telah membantu. Katakan bahwa Anda bangga karena anak telah berusaha keras untuk menjalankan bagiannya dalam keluarga. Bila perlu berilah ia hadiah setiap ia menunjukkan tanggung jawab dalam kurun waktu tertentu atas inisiatifnya sendiri.

4. Atur jadwal anak

Salah satu aspek dari penerapan aturan di rumah adalah tersusunnya jadwal anak yang teratur. Tentukan jadwal anak setiap hari untuk makan, bermain, sekolah, menonton tv dan lain-lain dalam waktu yang sama. Waktu yang sama ini sangat penting karena anak akan dapat memahami pola yang akan terbentuk dalam kesehariannya dan terbiasa untuk hidup lebih teratur.

5. Berikan contoh yang baik

Mengajari disiplin pada anak tidak cukup hanya dengan kata-kata saja. Anak adalah peniru ulung. Mereka akan menyadari pentingnya belajar disiplin jika melihat orang tuanya juga berperilaku sesuai standar yang telah ditentukan untuk mereka juga. Anda tidak bisa mengajarkan nilai baik kepada anak tanpa memberikan contoh  lewat perilaku sehari-hari tentang bagaimana seharusnya perilaku yang diharapkan dan pantas.

Cara Mengajarkan Disiplin Melalui Hubungan Orangtua dengan Anak

Jika hubungan antara orang tua dan anak terbentuk dengan baik, maka tidak akan sulit untuk mengajarkan disiplin pada anak sejak dini. Berikut ini cara mengajarkan disiplin melalui hubungan orang tua dan anak:

Sponsors Link

1. Tunjukkan kasih sayang

Anak sangat memerlukan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tunjukkan kepada anak bahwa Anda menyayangi mereka. Sediakan waktu untuk menjalin ikatan emosional dengan anak. Anak yang memiliki ikatan emosional dengan orang tuanya akan mudah merasa percaya diri karena tahu dan yakin bahwa dirinya dicintai.

2. Dukung minat anak

Setiap anak memiliki minat dan bakatnya masing-masing. Orang tua bisa mendukungnya untuk memastikan anak bisa mengembangkan diri melalui pengasahan bakat dan minatnya. Pelajaran tambahan tersebut memerlukan komitmen dan konsentrasi anak, sehingga hal itu bisa menjadi salah satu sarana untuk melatih disiplin pada anak. Karena itulah, pastikan bahwa anak benar-benar menyukai suatu hal sebelum memilihkannya sebagai kegiatan tambahannya.

3. Tunjukkan pemahaman akan keinginan anak

Jika merasa dipahami, anak pun tidak akan kehilangan minat untuk mengikuti peraturan yang ditetapkan orang tua.  Tunjukkan bahwa Anda memiliki empati terhadap perasaan dan keinginan anak. Namun jelaskan juga pada saat yang bersamaan bahwa apa yang mereka inginkan itu selalu memiliki konsekuensi. Misalnya, jika ia ingin tidur lebih larut dari biasanya, jelaskan bahwa tidur larut akan membuat anak beresiko untuk terlambat bangun tidur dan bersekolah keesokan harinya. Hal ini tidak hanya untuk memahami anak saja, melainkan usahakan agar terjalin saling pengertian antara orang tua dan anak.

4. Biarkan anak memilih

Membuat anak terbiasa mengutarakan pendapat bukan berarti bahwa orang tua harus membiarkan mereka membuat setiap keputusan dengan seenaknya. Berikan pilihan kepada anak mengenai hal yang Anda inginkan agar dilakukan anak, namun beri mereka batasan untuk menentukan pilihannya. Misalnya, mulai dengan menyediakan dua pilihan baju untuk dia pakai sehari-hari. Minta anak untuk memilih salah satunya dan tidak bisa memilih selain dari yang telah Anda siapkan.

5. Jangan menyuap anak

Ada kalanya ketika kewalahan dengan perilaku anak maka sebagian orang tua memilih jalan pintas dengan menyuap anak menggunakan sesuatu yang mereka gemari. Misalnya, memberikan permen agar mereka bisa tenang dan diam atau berhenti menangis. Anak akan belajar bahwa perilaku buruknya justru mendapat penghargaan dari orang tuanya, maka ia akan mengulanginya lagi dan lagi.

6. Antisipasi

Sebagai orang tua, Anda pasti mengenali tanda-tanda kapan anak akan mulai rewel dan berulah. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Anda harus dapat mengantisipasinya dengan baik. Contohnya, hindari untuk mengajak anak keluar rumah di waktu ia biasanya tidur siang. Rasa kantuk akan memicu rewel pada anak dan membuat Anda kewalahan untuk mendisiplinkan dirinya di luar rumah.

7. Fokus pada hal yang benar

Terkadang orang tua hanya memperhatikan kesalahan yang dibuat anak sehingga luput melihat bahwa anak telah melakukan sesuatu hal yang baik. Mengoreksi kesalahan anak memang perlu, namun ia tidak akan berkembang dengan baik secara mental apabila orang tua hanya menunjukkan kesalahan dan bukannya perbuatan baiknya. Hal itu akan membuat anak ragu akan setiap tindakannya karena selalu disalahkan dan tidak pernah diberi penghargaan akan perilakunya yang benar.

 8. Tekankan hal yang boleh dilakukan

Ketimbang selalu melarang anak untuk melakukan hal yang tidak Anda setujui, lebih baik tekankan kepada anak hal apa saja yang boleh mereka lakukan. Misalnya ketika anak melempar mainannya, jangan katakan bahwa ia tidak boleh melempar mainannya. Sebaliknya, tunjukkan kegunaan mainan tersebut dan bagaimana cara memainkannya dengan benar kepada anak.

Perlu diketahui, mengharapkan hasil yang instan atau segera ketika mengajarkan disiplin kepada anak bukanlah hal yang bijaksana. Anak kecil terkadang atau seringnya belum bisa mengendalikan dorongan hatinya untuk bertindak impulsif, karena itu memerlukan waktu yang agak panjang agar anak dapat bersikap disiplin sesuai ajaran orang tua. Dibutuhkan waktu dan kesabaran orang tua untuk membentuk anak menjadi pribadi yang disiplin dan bisa mengatur dirinya sendiri. Terkadang, Anda perlu membiarkan anak berbuat salah karena dengan demikian ia akan belajar dari kesalahannya sendiri.

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , , , , , ,
Post Date: Wednesday 18th, January 2017 / 04:21 Oleh :
Kategori : Pendidikan