Sponsors Link

15 Cara Membuat Anak Lebih Terbuka kepada Orang Tua

Sponsors Link

Orang tua pasti ingin anak mereka bisa tumbuh menjadi anak yang ceria, aktif, pemberani, dan terbuka untuk berkomunikasi kepada orang tuanya. Namun, banyak kenyataannya anak ketika tumbuh semakin besar, mereka semakin tertutup dan menjauh dari orang tuanya. Komunikasi anak dan orang tua menjadi jarang dan terhambat karena anak merasa enggan untuk bercerita dan cenderung menutup diri untuk menceritakan apa aktivitasnya sehari-hari. Padahal, komunikasi adalah hal yang sangat penting dan berguna untuk menjembatani hubungan anak dan orangtua serta sebagai sarana kedua belah pihak saling tahu aktivitas apa yang dialami dan perasaan apa yang sedang dirasakan.

ads

Saat anak mulai menginjak usia pra-remaja, anak cenderung menjadi lebih pendiam dan tertutup. Sebenarnya, hal ini wajar terjadi karena secara psikologis mereka sedang mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikis. Mereka mulai mengenal dunia luar lebih luas dan keluarga tidak lagi menjadi faktor utama dan prioritas di kehidupan anak. Tak jarang, anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih tertutup dan tidak jujur kepada orangtua tentang apa yang dialami dan dirasakannya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi orangtua untuk segera mengatasi anak yang tidak terbuka untuk berkomunikasi sebelum terlambat.

Tips Membuat Anak Lebih Terbuka

Komunikasi adalah hal kunci dan penting dalam hubungan antara anak dan orangtua. Dengan komunikasi yang baik, hubungan emosional anak dan orangtua akan lebih erat dan akrab sehingga anak bisa mencurahkan semua perasaannya dan menceritakan aktivitas yang dijalaninya bersama teman-temannya dengan terbuka. Dunia yang sudah semakin maju sekarang menyimpan bahaya dan resiko besar yaitu pergaulan bebas yang mengancam masa depan anak-anak. Untuk membentengi anak dari pengaruh buruk di luar, sudah seharusnya orangtua memberikan rambu-rambu dan menguatkan hubungan emosional dengan anak agar anak tidak terjerumus ke jalan yang salah. Berikut tips yang bisa diterapkan oleh orangtua agar anak menjadi lebih terbuka:

  1. Jangan Memaksa Anak

Tak ada satu orang pun di dunia ini yang suka dipaksa, apalagi untuk mengatakan hal-hal yang memang mereka tak ingin membicarakannya. Anak pun demikian, memaksa mereka justru akan membuat anak merasa tidak nyaman dan makin jauh dari orang tuanya. Cara terbaik untuk berkomunikasi dengan anak adalah posisikan diri Anda sebagi teman dan sahabat yang nyaman dan menyenangkan untuk diajak berbicara. Bersikaplah tenang, tidak mendesak dan biarkan anak merasa nyaman dengan sendirinya sehingga perlahan muncul rasa ingin berbagi kepada orang tuanya tanpa ada tekanan apapun.

  1. Bersabar dan Terus Mencoba

Seringkali, anak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa merasa nyaman dan mau membuka diri terhadap orang tua. Jadi, sebagai orang tua Anda harus bersabar dan jangan mudah menyerah untuk mencoba membangun kedekatan komunikasi dengan anak. Perlahan, anak akan merasa nyaman dengan sendirinya dan itu akan berlangsung selamanya bila Anda mau bersabar dan tetap bersikap lembut pada anak.

  1. Hindari Kritik Pedas

Anak tidak menyukai bila orang tua melontarkan kritik pedas yang cenderung menyalahkan dan menghakimi anak. Sayangnya, tanpa disadari banyak orang tua pernah melakukan hal ini pada anak dan membuat anak trauma sehingga anak makin enggan untuk terbuka pada orang tuanya. Janganlah bertindak seperti hakim yang menyalahkan anak, namun bersikaplah seperti sahabatnya yang bisa memotivasi anak untuk bertingkah laku baik dan santun.

  1. Dengarkan Anak

Orang tua terkadang tidak paham bahwa tak semua anak merasa perlu untuk berbicara kepada orang tuanya secara terbuka dalam suasana yang tenang, sepi dan hanya berdua dengan orang tuanya. Anak-anak, khususnya anak laki-laki, cenderung lebih terbuka dan responsive untuk berbicara kepada orang tua saat mereka sedang beraktivitas misalnya menonton film, menggambar, makan, membuat prakarya dan lain sebagainya. Manfaatkan dan gunakan saat-saat aktif itu karena anak cenderung lebih nyaman dan mudah mengungkapkan perasaan serta pendapatnya kepada orang tua.

  1. Bicarakan Hal Kesukaan Anak

Bila kebingungan untuk memulai topik pembicaraan saat berkomunikasi dengan anak, cobalah untuk membicarakan seputar minat, hobi dan hal-hal yang disukai anak. Misalnya, anak Anda menyukai lagu-lagu seorang penyanyi remaja ternama, atau anak Anda sangat gemar mengoleksi mainan seri Marvell. Jadikan hal-hal tersebut sebagai celah untuk mulai berkomunikasi dengan anak dan menjadi membuat anak perlahan mau tergiring untuk membicarakan hal-hal lain menyangkut kehidupannya.

  1. Tanyakan Sesuatu yang Spesifik

Mengajukan pertanyaan untuk memulai membuka obrolan dengan anak memang sangat efektif, namun sebaiknya orang tua tidak melontarkan pertanyaan yang bersifat terlalu umum dan sukar dijawab anak seperti “Bagaimana harimu tadi di sekolah? Cobalah untuk bertanya hal yang lebih spesifik seperti “Kamu main apa tadi saat jam istirahat”? Dengan menanyakan hal-hal yang lebih spesifik, anak akan menjawab dengan cepat dan memuaskan. Kerapkali anak juga akan bercerita lebih banyak dan melontarkan celetukan yang tak terduga kepada orang tuanya.

  1. Ikuti Dunia Anak

Orang tua tidak boleh merasa terlalu tua, malu atau segan untuk memahami dunia anak. Bila Anda mengerti dan paham akan dunianya, anak akan merasa jauh lebih nyaman saat berbincang dengan Anda karena ia merasa seolah sedang berbicara kepada sahabatnya. Anak juga akan merasa lebih santai dan terbuka bila orang tuanya juga paham akan dunianya sehingga komunikasi dan keterbukaan yang ada di antara anak dan orang tua akan lebih meningkat.

  1. Quality Time

Saat-saat kebersamaan bersama dengan keluarga adalah waktu yang paling tepat antara orang tua dan anak untuk menjalin komunikasi dan kedekatan batin yang lebih intens dan terbuka. Sediakan waktu khusus dengan anak untuk sekedar berlibur, makan malam bersama, atau sekedar pergi berbelanja untuk dapat menciptakan obrolan yang lebih intim dan akrab.

  1. Duduk Berdampingan

Saat mengajak anak bercakap-cakap, akan lebih mudah dan nyaman bagi orang tua dan anak untuk duduk dengan posisi berdampingan. Dengan duduk bersebelahan, anak akan merasa posisinya sejajar dengan Anda dan membuat anak jauh merasa nyaman ketimbang duduk berhadapan yang membuat anak merasa seolah dirinya sedang disidang atau dihakimi.

  1. Ciptakan Rutinitas Mengobrol

Ciptakan waktu khusus yang menjadi rutinitas untuk mengobrol dengan anak secara teratur. Waktunya bebas sesuai dengan kenyamanan dan kondisi anak dan orang tua. Bisa malam menjelang tidur, pagi hari saat sarapan atau malam hari saat makan malam. Topiknya bebas mengenai apapun. Utamakan untuk membicarakan hal-hal seputar dunia anak sehingga anak akan merasa nyaman dan disayangi.

Sponsors Link

  1. Manfaatkan Waktu di Perjalanan

Di zaman modern saat ini, seringkali orang tua susah menemukan waktu luang untuk bisa mengobrol dengan nyaman bersama anak. Manfaatkan waktu-waktu sempit namun rutin seperti saat mengantar anak sekolah atau menjemputnya dari tempat les. Ajaklah anak berbicara hal-hal ringan dan menyenangkan seputar dunianya. Tanyakan hal-hal yang spesifik dan pancinglah anak agar mau terus bercerita sehingga lama kelamaan anak akan merasa ketagihan untuk berbincang dengan orang tuanya.

  1. Libatkan Anggota Keluarga Lain

Saat mengajak anak mengobrol, sesekali libatkanlah anggota keluarga lain seperti neneknya, kakak sepupunya, bibinya atau pamannya. Dengan mengajak orang lain, anak akan merasa lebih nyaman dan merasa fokus pembicaran tidak melulu tertuju padanya. Anak juga akan merasa lebih hangat dan nyaman saat berada di tengah-tengah keluarga besarnya.

  1. Komunikasi Dua Arah

Tidak harus orangtua melulu yang terus-terusan melemparkan topik obrolan dan pertanyaan pada anak. Sesekali, pancing atau minta anak untuk menanyakan aktivitas, hobi atau perasaan Anda padanya. Hal ini akan membuat anak merasa lebih memiliki ikatan batin dengan orang tuanya sekaligus mengajarkan anak untuk lebih berempati dan memangkas jarak kecanggungan antara orang tua dan anak.

  1. Jangan Memberi Saran Terlalu Cepat

Saat anak sedang bercerita tentang apapun, jadilah pendengar yang terbaik. Dengarkan dengan sabar setiap kalimat yang diucapkan anak dan tahan diri untuk tidak berkomentar yang cenderung menghakimi atau memberi saran yang mendominasi anak. Hal ini akan membuat anak merasa bahwa ada jarak antara orang tua dan dirinya sehingga anak menjadi lebih tertutup dengan orang tuanya.

  1. Jagalah Komunikasi dengan Rutin melalui Dunia Maya

Tidak selamanya komunikasi harus dilakukan secara langsung dan bertatap muka. Bila kondisinya memang sangat tidak memungkinkan atau anak dan orang tua sedang sama-sama memiliki kesibukan dan kewajiban lain yang tidak bisa ditinggalkan, biasakan untuk tetap menjaga komunikasi dengan anak melalui telepon, sms, BBM, Whatsapp dan lain sebagainya. Teknologi sudah sedemikian canggih saat ini. Manfaatkan hal itu untuk mengawasi dan mengontrol anak agar orang tua selalu tahu gambaran singkat tentang aktivitas atau suasana hati anak.

Penyebab Anak Tidak Terbuka Kepada Orangtua

Dalam setiap hubungan, komunikasi menjadi hal yang teramat penting dan tak boleh dilewatkan. Keterbukaan akan membuat hubungan anak dan orang tua menjadi lebih erat dan intim sehingga orang tua dapat terus mengawasi perkembangan anak dan menjauhkan anak dari pergaulan dunia luar yang makin mengkhawatirkan dewasa ini. Biasanya, anak memang lebih senang bercerita kepada orang lain disekelilingnya mengenai hal-hal baru atau perasaan yang dialaminya. Memang tidak semua anak memiliki sifat seperti itu. Ada juga anak yang justru lebih suka memendam perasaan atau cerita yang dialaminya dan tidak mau mengungkapkannya kepada orang lain termasuk orang tuanya. Sifat anak yang seperti ini disebut dengan sifat anak introvert.

Sikap tertutup anak terhadap lingkungan sekitar ini bisa terjadi pada anak usia berapapun. Sikap tertutup ini, masih bisa dianggap wajar jika anak masih mengungkapkan sebagian masalahnya pada orangtua atau temannya, dan memilih untuk menyembunyikan beberapa masalah lainnya. Namun, jika anak sama sekali tidak mau terbuka tentang semua hal yang ada disekitarnya, terutama pada orang tuanya, hal ini harus diwaspadai.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan anak tidak mau membuka diri pada orangtua, yaitu sebagai berikut :

  • Pengabaian

Pada dasarnya, setiap manusia senang diperhatikan dan butuh untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Sayangnya, banyak orang tua yang belum menyadari bahwa mengajak anak berkomunikasi sejak kecil adalah salah satu bentuk perhatian dan pengakuan orang tua terhadap anak. Akibatnya, tidak semua orang tua sadar dan melakukan hal tersebut. Saat anak tidak mendapat bentuk perhatian dan pengakuan dari orang tuanya, anak akan mencari sosok lain di lingkungan luar keluarganya untuk bisa memberikan apa yang ia butuhkan. Akibatnya, anak menjadi sosok yang tertutup kepada orang tuanya namun sangat terbuka kepadap lingkungan yang perhatian dan memberi pengakuan padanya.

  • Tekanan Orang tua

Ada beberapa orang tua yang terus-menerus menekan anak agar memenuhi semua keinginan dan harapan orang tua. Padahal, ini bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi tidak nyaman dan merasa tertekan dihadapan orang tuanya. Selain itu, orang tua yang sering melakukan kekerasan seperti mencubit, membentak, memukul dan lain sebagainya kepada anak sehingga menumbuhkan karakter takut kepada orang tuanya, yang pada akhirnya membuat anak tidak mau terbuka kepada orang tuanya.

  • Bully

Kalimat atau sikap yang mengejek dan merendahkan anak tanpa disadari kerapkali dilakukan oleh orang tua. Biasanya, orang tua yang emosional dan kurang memiliki pendidikan tentang pola asuh anaklah yang sering berbuat demikian. Akibatnya sungguh fatal. Anak menjadi rendah diri dan tertutup sehingga jangan harap ia mau dekat dan bercerita kepada orang tua secara terbuka.

ads

Mengenali Kepribadian Tertutup Anak (Introvert)

Dalam kehidupan bermasyarakat, introvert sering dikenal sebagai sebuah jenis kepribadian yang tertutup, enggan bersosialisasi, tidak memiliki banyak kawan, suka minder, pendiam dan gemar menyendiri. Kebanyakan orang menganggap bahwa anak yang memiliki kepribadian introvert adalah orang yang aneh, penakut, sombong dan berbagai stigma negative lainnya.

Para psikolog sering menguraikan bahwa kepribadian seseorang adalah gabungan dari bawaan sejak lahir dan faktor-faktor kompleks lain yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Pola asuh orang tua, pengaruh lingkungan sekitar, pergaulan di sekolah dan masyarakat adalah sederet contoh faktor yang sangat berpengaruh dalam menciptakan karakter dan kepribadian anak.

Sangat tidak bijaksana bila kita secara sepihak mencap orang yang memiliki kepribadian introvert sebagai orang yang sombong, penakut dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki kepribadian introvert dapat dikenali sejak kanak-kanak. Oleh karena itu, sebelum karakter atau kepribadian introvert ini melekat pada diri seseorang, ada baiknya bila para orang tua yang mengalami beberapa tanda atau perilaku yang tidak biasa pada buah hatinya berikut ini dapat segera mencarikan solusi.

Berikut adalah beberapa ciri-ciri yang dapat diamati oleh orang tua pada anak untuk mendeteksi bila anaknya tergolong memiliki kepribadian introvert sehingga mudah diarahkan untuk lebih terbuka di kemudian hari:

  1. Pendiam

Perhatikan saat anak sedang bermain bersama teman-temannya, apakah dia lebih suka bermain sendiri atau selalu berbaur dengan teman-temannya? Dari sini orang tua dapat mengetahui sinyal pertama yang ditunjukkan anak sebagai pertanda bahwa anak sedang mengalami pergolakan batin yang membuatnya tidak suka berbaur dengan temannya dan tidak nyaman saat bersosialisasi. Disinilah peran orang tua sangat penting untuk mencari tahu kenapa anak tidak nyaman bergaul dan menjadi pendiam.

Apakah karena malu dengan kondisi ekonomi orangtuanya, apakah baru mengenal temannya, apakah mengalami kekerasan fisik, dan lain sebagainya. Bantu anak untuk membangun komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitarnya dengan memintanya bicara jujur dan terbuka dengan perlahan. Tanamkan rasa percaya diri pada anak  dengan cara melibatkan dia dalam urusan rumah tangga serta mengikutsertakannya dalam kegiatan-kegiatan di luar rumah.

  1. Cengeng

Anak yang mudah sekali menangis atau cengeng dapat diindikasikan bahwa ia tidak nyaman dengan lingkungan sekitarnya. Kenali dan cari tahu apa yang membuat anak mudah menangis. Apakah pola asuh orang tua yang salah dan terlalu memanjakannya atau sebab lain seperti sering diejek teman-temannya. Luangkan waktu untuk mengamati saat anak sedang bermain bersama teman-temannya dan lakukan hal-hal preventif serta solutif dari hasil pengamatan Anda tersebut.

  1. Lebih Suka di Rumah

Umumnya, anak-anak sangat suka bermain di luar rumah. Saat anak berlaku sebaliknya dan sangat betah berdiam di dalam rumah, maka orang tua perlu memeriksa ulang apa yang salah pada diri anak saat ia sangat jarang keluar rumah dan bermain bersama teman-temannya. Saat ini, permainan elektronik memang dapat menjadi faktor pemicu kenapa anak lebih suka berada di dalam rumah. Batasi dan tetapkan jadwal kapan anak boleh bermain dengan alat elektroniknya dan ajarkan anak untuk mau keluar rumah dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

  1. Stress Saat Ada di Keramaian

Anak yang tidak menyukai keramaian seperti di mall, pasar, arena bermain dan angkutan umum dapat dilihat jika ia menunjukkan gejala seperti keringat dingin, menangis, gemetaran, takut dan lain sebagainya. Bila hal ini dialami oleh anak, jangan diabaikan dan memarahi anak. Bantu anak untuk mengatasi hal ini dengan cara terus menemaninya dan memberi dukungan agar anak perlahan merasa lebih nyaman saat berada di antara orang banyak.

  1. Teman yang Sedikit

Perhatikan siapa saja yang selama ini banyak berteman dengan anak, apakah kawannya banyak atau hanya itu-itu saja yang sering muncul atau dibicarakn oleh anak. Jumlah teman yang dimiliki anak bisa dijadikan pertanda apakah anak termasuk ke golongan introvert atau ekstrovert sehingga orang tua dapat membimbing anak dan memotivasinya untuk dapat berteman dengan lebih banyak orang.

Kehidupan psikologis setiap anak memang berbeda-beda. Sebagian anak bisa tumbuh dengan memiliki rasa percaya diri dan keberanian yang tinggi. Lainnya, bisa tumbuh dengan kepribadian introvert yang tertutup dan cenderung rendah diri. Introvert bukan berarti buruk karena ini hanyalah kondisi psikologis dimana anak lebih pendiam dan cenderung menutup diri dari lingkungan di sekitarnya.

Kebanyakan kasus yang dijumpai, anak introvert kerap memiliki kesulitan dalam kehidupan sosialnya karena mereka tidak memiliki rasa percaya diri dan keberanian yang tinggi. Anak pun menjadi pendiam, enggan terbuka kepada siapapun, suka menyendiri, dan suka mendengarkan ketimbang berbicara.  Sebagai orang tua, sudah seharusnya anda bisa mengenali dan memahami bagaiamana kepribadian anak. Setiap anak diciptakan berbeda dan mereka memiliki bakatnya masing-masing. Oleh karena itu, menumbuhkan dan membiasakan sikap terbuka berkomunikasi sangatlah penting demi menciptakan karakter anak yang lebih terbuka, berani dan percaya diri.

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , , , , ,
Post Date: Thursday 19th, January 2017 / 05:25 Oleh :
Kategori : Parenting